Menurut Vance, pembicaraan tetap berlangsung melalui jalur teknis dengan mediator Qatar, namun kedua delegasi tidak bertemu langsung.

Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan fokus utama timnya adalah mencari jalan agar aset beku dapat segera diakses.

Namun AS tetap bersikukuh pencairan dana hanya dapat dilakukan setelah Iran memenuhi sejumlah target dalam MoU.

Beberapa tolok ukur tersebut antara lain pembukaan kembali Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, penghentian rencana pungutan terhadap kapal yang melintas, serta pemenuhan kewajiban lain dalam kesepakatan.

"Ketika Iran membuka kembali Selat Hormuz, menghentikan pungutan bagi kapal, dan memenuhi target lainnya, mereka akan memperoleh akses terhadap skema bantuan yang telah diatur.

Jika melaksanakan MoU, mereka dapat mengakses sebagian aset beku untuk pembelian barang kemanusiaan dari AS," ujar pejabat AS lainnya.

Washington menilai bantuan tersebut penting mengingat kondisi ekonomi Iran yang terus tertekan.

Menurut AS, krisis ekonomi, kelangkaan pangan, dan kenaikan harga kebutuhan pokok telah memberikan tekanan besar terhadap kepemimpinan politik di Teheran.

>>> Prabowo Sematkan Tanda Kehormatan Samkaryanugara ke 2 Satker dan 10 Polda

AS menegaskan pencairan dana beku bukan hak otomatis bagi Iran, melainkan insentif yang hanya diberikan apabila seluruh komitmen dalam perjanjian benar-benar dijalankan.