Istilah 'pidatomology' belakangan ramai diperbincangkan di media sosial.

Istilah ini merujuk pada anggapan bahwa pidato Presiden Prabowo Subianto dapat memicu pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

>>> Oman dan Iran Siapkan Tarif Pelayaran di Selat Hormuz Usai Perang

Isu tersebut kembali mencuat seiring kabar bahwa Presiden Prabowo akan lebih sering berpidato dalam berbagai agenda sepanjang Juli 2026.

Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Jeffrey Hendrik membantah anggapan tersebut. "Seharusnya enggak ya," kata Jeffrey kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (30/6).

Senada, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hasan Fawzi mengimbau investor agar tetap rasional.

"Saya kayaknya no comment, tapi intinya mohon investor tetap rasional ya," ujar Hasan di lokasi yang sama.

Menurut Hasan, pergerakan harga saham dan IHSG dipengaruhi berbagai faktor, terutama di tengah kondisi pasar yang dinamis dan volatil.

>>> Cara Mendapatkan Bocoran Jadwal Rilis iPhone 18 dan Ultra September 2026

Koreksi yang terjadi tidak serta-merta menunjukkan penurunan kinerja fundamental emiten.

Ia menegaskan bahwa setiap saham mencerminkan kegiatan operasional dan bisnis perusahaan. Informasi tersebut dapat dinilai melalui keterbukaan informasi kepada publik.

"Di balik kegiatan operasional itu ada keterbukaan informasi, yang jelas laporan keuangan setiap kuartalnya harus dipublikasikan," kata Hasan.

Laporan keuangan menjadi sarana menilai value perusahaan dan prospek ke depannya.

>>> Cara Cek 5 Bantuan Sosial Pemerintah yang Cair Juli 2026

Hasan menilai investor sebaiknya menjadikan laporan keuangan dan keterbukaan informasi emiten sebagai dasar pengambilan keputusan investasi. Jangan terpengaruh isu yang tidak berkaitan dengan fundamental pasar.