Safari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) ke Lampung dinilai berpotensi mengganggu konsentrasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Pengamat Politik Citra Institute, Efriza, menilai kunjungan tersebut bukan sekadar silaturahmi, melainkan memiliki muatan politik yang kuat.

>>> Kematian Dokter Icha Jadi Alarm Serius untuk Prabowo: Jangan Tunggu Korban Selanjutnya

Menurut Efriza, safari politik Jokowi mengubah persepsi publik mengenai hubungan Jokowi dan Prabowo.

Kehadiran Jokowi di Lampung hingga menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" dinilai memunculkan kesan adanya agenda politik di luar pemerintahan.

"Jelas safari politik Jokowi bermuatan politis, yang malah mengganggu sinergi seluruh partai untuk berkonsentrasi mewujudkan kesejahteraan masyarakat bersama Prabowo," ujar Efriza, dikutip Rabu (1/7).

Ia berpandangan, apabila perhatian elite politik kembali tersedot pada manuver pasca-pilpres, ruang bagi pemerintahan untuk bekerja optimal akan semakin terbatas.

Situasi tersebut berpotensi mengganggu upaya pemerintah merealisasikan berbagai program bagi masyarakat.

Efriza juga menyoroti keterlibatan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dalam rangkaian safari Jokowi.

Menurutnya, langkah itu menunjukkan sikap kurang tepat mengingat Jokowi telah menyelesaikan masa jabatannya sebagai presiden.

"Ia sudah purna tugas, tidak perlu lagi membangun citra.

>>> Studio Wit, di Balik Attack on Titan, Umumkan Anime Orisinal Baru LONA untuk Musim Semi 2027

Biar itu jadi penilaian masyarakat, bukan seolah suatu daerah yang didatangi dimobilisasi untuk memberikan simbol citra yang bagus untuk Jokowi," katanya.

Efriza menilai Jokowi selama safari juga memperlihatkan upaya menonjolkan capaian selama menjabat, yang berpotensi memunculkan persepsi orientasi pencitraan.

"Jadi penilaiannya lebih kepada tidak eloknya dia bersafari sambil ditengarai melakukan mobilisasi pencitraan dalam simbolik keberhasilan kinerjanya," ujarnya.

Efriza menilai langkah tersebut dapat memengaruhi soliditas politik di sekitar pemerintahan Prabowo, apalagi Jokowi berencana melanjutkan safari politiknya dari Lampung.

"Jelas tergambarkan bahwa dia bukan lagi pendukung pemerintah yang loyal, tetapi keduanya adalah bak duri dalam daging bagi pemerintah," kata Efriza.

Safari Jokowi dimulai dari Lampung pada Juni 2026. Dalam kunjungan tersebut, ia menerima gelar adat "Baginda Pemuka Bangsa" melalui prosesi adat masyarakat Lampung.

Manuver tersebut memunculkan beragam respons.

>>> Iran Sindir Amerika soal Fair Play Piala Dunia 2026

Di satu sisi dipandang sebagai hak warga negara, namun di sisi lain dinilai berpotensi memunculkan dinamika politik baru yang mengganggu konsentrasi pemerintahan.