Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi mengakui aktivitas perdagangan di bursa karbon Indonesia masih relatif rendah.

Wanita yang akrab disapa Kiki itu menyebut kondisi tersebut terjadi karena pengembangan bursa karbon di Indonesia tidak mudah.

>>> Laporan Korupsi di BUMN Bakal Terhubung Langsung ke KPK

Meski begitu, ia menilai Indonesia masih lebih baik penerapannya dibanding bursa karbon di beberapa negara lain.

"Iya memang (perdagangan di bursa karbon masih rendah) karena kalau kita lihat memang tidak mudah men-develop (mengembangkan) ini, tapi kalau dibandingkan dengan beberapa bursa lain kita sebenarnya cukup baik," ujar Kiki di sela-sela acara Maybank Indonesia Sustainable Forum 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (30/6).

Jika bursa karbon di Indonesia ingin maju seperti China, Kiki menilai perlu dukungan yang lebih masif.

OJK sendiri telah menyediakan dukungan melalui program Satu Karsa.

Satu Karsa adalah platform blended finance yang mendukung proyek karbon berbasis alam secara kredibel dan berintegritas, yang dikolaborasikan bersama Kementerian Kehutanan.

Melalui pendekatan blended finance, Indonesia dapat menarik investor jangka panjang untuk mendukung pemulihan ekosistem sekaligus menghasilkan kredit karbon berkualitas tinggi.

"Dengan Kementerian Kehutanan melalui program Satu Karsa, mungkin di awal bulan Juli kita akan launch bersama, di mana nanti akan beberapa proyek yang juga nanti akan dihitung unit carbon-nya yang bisa diperdagangkan di bursa," ujar Kiki.

Dia menjelaskan langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat pasar primer sekaligus pasar sekunder karbon di Indonesia.

"Kita dukung dari mulai primary market-nya kepada secondary market-nya supaya pasar karbon di Indonesia semakin maju dan berkembang," ujar Kiki.