Harga BBM Non-Subsidi Berpeluang Turun Ikuti Mekanisme Pasar
Harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, termasuk Pertamax, berpeluang turun dalam waktu dekat. Penurunan ini dapat terjadi apabila harga minyak mentah dunia bergerak melemah.
Kebijakan penetapan harga BBM non-subsidi sepenuhnya didasarkan pada mekanisme pasar. Pemerintah menegaskan bahwa perhitungan keekonomian menjadi acuan utama dalam menentukan nilai jualnya.
>>> Pemerintah Targetkan Renovasi Stasiun Gambir Rampung pada 2028
Juru Bicara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Dwi Anggia menjelaskan bahwa fluktuasi harga minyak global berdampak langsung pada pasar domestik.
Penurunan harga minyak mentah dunia akan memicu penyesuaian harga BBM non-subsidi ke level yang lebih rendah.
Menurut Anggia, prinsip yang digunakan dalam penetapan harga berlaku dua arah. "Saat harga minyak dunia naik, harga BBM non-subsidi akan terdorong meningkat mengikuti biaya produksi dan distribusi.
Sebaliknya, jika harga minyak melemah, maka ruang untuk penurunan harga juga terbuka," ujarnya.
Pemerintah bersama badan usaha milik negara (BUMN) dan perusahaan swasta berkomitmen menjaga stabilitas energi. Langkah penahanan harga sempat dibahas saat pasar global bergejolak guna melindungi daya beli masyarakat.
>>> Saham BUMI Menguat 15,75 Persen Menjelang RUPS 2026
Meskipun demikian, pelaku usaha tetap harus memperhitungkan aspek keekonomian di tengah fluktuasi pasar yang dinamis.
Penyesuaian harga menjadi keputusan yang sulit dihindari ketika pergerakan harga minyak mentah dunia berubah secara signifikan.
Masyarakat juga diimbau untuk memahami perbedaan antara jenis BBM subsidi dan non-subsidi. Pemerintah berkomitmen mempertahankan harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan solar subsidi untuk melindungi kelompok yang membutuhkan.
Sementara itu, produk non-subsidi seperti Pertamax dan Dex Series akan terus mengikuti perkembangan pasar energi global.
>>> Chelsea Dekati Agen Marco Palestra, Bersaing dengan Man City dan Inter Milan
Pergerakan harga minyak dunia tetap menjadi faktor penentu utama naik turunnya harga BBM non-subsidi di Indonesia.
Update Terbaru
Rupiah Dibuka Menguat ke Rp17.954 per USD Usai Data Tenaga Kerja AS Melemah
Jumat / 03-07-2026, 10:14 WIB
Isu Messi Pensiun, De Paul: Argentina Belum Siap Kehilangan
Jumat / 03-07-2026, 10:14 WIB
Purbaya: Indonesia Tidak Sedang Menuju Krisis, Ekonomi Terus Membaik
Jumat / 03-07-2026, 10:14 WIB
Pemerintah Siapkan 'Surga Investor' Baru di Indonesia, RUU Pusat Keuangan Internasional Resmi Masuk DPR
Jumat / 03-07-2026, 10:11 WIB
Gen Z Tinggalkan Hubungan Nonchalant, Kini Beralih ke Tren Chalant
Jumat / 03-07-2026, 10:11 WIB
Taylor Swift Gelar Makan Malam Gladi Resik, Tamu Selebriti Berdatangan
Jumat / 03-07-2026, 10:11 WIB
Cara Cek Daftar Nominal Bantuan PKH Terbaru dan Jadwal Pencairan 2026
Jumat / 03-07-2026, 10:07 WIB
PLTS dan BESS: Solusi Efektif Kurangi Beban Listrik Kota pada 2026
Jumat / 03-07-2026, 10:06 WIB
Setelah Indonesia, TikTok PHK 300 Karyawan di Eropa
Jumat / 03-07-2026, 09:56 WIB
Mobil Diesel Lawas Bisa Minum Solar B50? Ini Kata Pakar ITB
Jumat / 03-07-2026, 09:56 WIB
Trailer Inggris Grow Up Show -Sunflower Circus- Rilis, Umumkan Cast dan Dub Hari yang Sama
Jumat / 03-07-2026, 09:41 WIB
Tougen Anki: Nikko Kegon Falls Arc Umumkan Pengisi Suara Brigade Oni
Jumat / 03-07-2026, 09:41 WIB
WNBA Umumkan Pemain Starter All-Star 2026, Paige Bueckers Pimpin Suara
Jumat / 03-07-2026, 09:41 WIB
Phoenix Mercury Jamu Seattle Storm dalam Laga Wilayah Barat
Jumat / 03-07-2026, 09:36 WIB






