Khutbah Jumat 17 April 2026 Angkat Pesan Takwa dan Kepedulian Sosial

Khutbah Jumat 17 April 2026 Angkat Pesan Takwa dan Kepedulian Sosial

alquran-pixabay-

Khutbah Jumat 17 April 2026 Angkat Pesan Takwa dan Kepedulian Sosial

Manusia tidak pernah hidup sendiri. Dalam setiap aspek kehidupan, keterhubungan dengan sesama menjadi keniscayaan yang tidak terpisahkan.

Dalam perspektif Islam, hubungan sosial tersebut tidak hanya bersifat duniawi, tetapi juga menjadi bagian dari wujud ketakwaan kepada Allah SWT.

Makna Takwa Pasca Ramadhan



Khutbah Jumat yang disampaikan oleh Prof Dr Sudarnoto Abdul Hakim, MA menekankan pentingnya menilai kembali capaian spiritual setelah menjalani ibadah Ramadhan.

Momentum Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan titik evaluasi atas kualitas ketakwaan yang telah dibangun selama sebulan penuh.

Dalam Alquran ditegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa. Hal ini menunjukkan bahwa keimanan belum tentu sejalan dengan ketakwaan jika tidak diwujudkan dalam sikap hidup.


Takwa tidak berhenti pada ritual ibadah semata. Nilainya harus tercermin dalam perilaku sosial, termasuk kepedulian terhadap keadilan dan upaya mencegah kemungkaran.

Amar Ma’ruf Nahi Munkar dalam Kehidupan Sosial

Seruan untuk mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari karakter orang bertakwa.

Kemungkaran tidak hanya berbentuk pelanggaran individu, tetapi juga mencakup ketidakadilan sosial, penindasan, serta berbagai bentuk eksploitasi manusia.

  • Mendorong kebaikan di lingkungan sekitar
  • Menolak segala bentuk kezaliman
  • Membangun keberanian moral dalam membela kebenaran

Dalam konteks kekinian, kezaliman dapat hadir dalam skala luas, termasuk konflik global dan krisis kemanusiaan yang menimpa berbagai wilayah.

Spirit Pembebasan dalam Ajaran Tauhid

Khutbah tersebut juga menyoroti bahwa tauhid bukan sekadar keyakinan teologis, tetapi memiliki dimensi pembebasan yang nyata.

Nilai tauhid mendorong manusia terbebas dari segala bentuk penindasan, baik secara individu maupun sistemik.

Sejarah Islam mencatat bahwa misi awal Rasulullah SAW tidak hanya mengajarkan keimanan, tetapi juga mengangkat martabat manusia yang tertindas.

Prinsip ini tetap relevan di tengah berbagai persoalan global yang menunjukkan adanya ketimpangan dan penderitaan kemanusiaan.


Berita Lainnya