Kenapa Harga Plastik Naik Drastis? Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Pasokan Global
Kenapa Harga Plastik Naik Drastis? Konflik Timur Tengah Picu Gangguan Pasokan Global
Kenaikan harga plastik dalam beberapa waktu terakhir mulai dirasakan di berbagai sektor perdagangan di Indonesia. Lonjakan tersebut tidak hanya memengaruhi industri, tetapi juga berdampak langsung pada pelaku usaha kecil hingga konsumen.
Produk berbahan plastik seperti kantong kresek, plastik kemasan, hingga wadah makanan dilaporkan mengalami penyesuaian harga. Dampaknya bahkan merembet ke sektor jasa yang bergantung pada penggunaan plastik, salah satunya usaha penatu.
Konflik Timur Tengah Ganggu Distribusi Energi
Kenaikan harga plastik berkaitan erat dengan ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Situasi tersebut memicu gangguan pada jalur distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur pelayaran strategis dunia.
Gangguan di jalur tersebut memengaruhi pasokan minyak dan sejumlah komoditas penting. Dampaknya kemudian menjalar ke industri petrokimia yang mengolah minyak dan gas bumi menjadi berbagai bahan kimia turunan.
Dalam perkembangan terbaru, harga minyak mentah dilaporkan melonjak hingga sekitar 47 persen. Sementara itu, harga polipropilena—salah satu bahan utama produksi plastik—ikut naik sekitar 24 persen.
Polipropilena merupakan jenis plastik yang banyak digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari kemasan makanan, wadah penyimpanan, hingga perlengkapan rumah tangga.
Ketergantungan Ekspor Bahan Plastik dari Timur Tengah
Wilayah Timur Tengah memiliki peran besar dalam pasokan bahan baku plastik dunia. Kawasan ini menyumbang sekitar seperempat dari total ekspor global polietilen dan polipropilen.
Terganggunya distribusi dari wilayah tersebut membuat rantai pasokan bahan baku plastik menjadi tidak lancar. Ketika pasokan menurun, harga di pasar global pun terdorong naik.
Direktur Polietilen di Independent Commodity Intelligence Services, Harrison Jacoby, menjelaskan bahwa jalur ekspor plastik dari Timur Tengah sangat bergantung pada Selat Hormuz.
"Sekitar 84% kapasitas polietilen Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor melalui jalur laut," ungkap Harrison Jacoby.
Ketergantungan tersebut membuat setiap gangguan di wilayah itu dapat memicu dampak luas terhadap pasokan global, termasuk ke negara-negara yang jauh dari sumber produksi seperti Indonesia.
Baca juga: Polres Labuhanbatu Gelar Trauma Healing untuk Anak Korban Bullying di Panai Hilir
Update Terbaru
PSSI Sediakan 35 Ribu Tiket untuk Laga Timnas Indonesia vs Oman dan Mozambik
Sabtu / 30-05-2026, 16:58 WIB
Hiroshi Aoyama Targetkan Konsistensi Veda Ega di Moto3 Italia 2026
Sabtu / 30-05-2026, 16:58 WIB
FIFA Jatuhkan Sanksi Larangan Registrasi Pemain Baru untuk Persib Bandung
Sabtu / 30-05-2026, 16:57 WIB
Veda Ega Pratama Lolos Langsung ke Q2 Moto3 Italia di Mugello
Sabtu / 30-05-2026, 16:57 WIB
Dodgers Pukul Empat Home Run dan Kalahkan Zack Wheeler
Sabtu / 30-05-2026, 16:57 WIB
FIGC Persempit Calon Pelatih Italia: Antonio Conte vs Roberto Mancini
Sabtu / 30-05-2026, 15:58 WIB
Vissel Kobe vs Kashima Antlers: Laga Krusial J-League 30 Mei 2026
Sabtu / 30-05-2026, 15:58 WIB
Sanfrecce Hiroshima Jamu Kawasaki Frontale di J-League, Tim Tamu Pincang
Sabtu / 30-05-2026, 15:58 WIB
Phillies Kembali Kesulitan Hadapi Pitcher Kidal, Kalah dari Dodgers
Sabtu / 30-05-2026, 15:58 WIB
Real Madrid Pertahankan Posisi Klub Terkaya Dunia Selama Lima Tahun Beruntun
Sabtu / 30-05-2026, 15:57 WIB
Justin Wrobleski Gemilang, Dodgers Kalahkan Phillies
Sabtu / 30-05-2026, 14:58 WIB
Max Muncy Ungkap Kunci Dodgers Pukul Empat Home Run Lawan Phillies
Sabtu / 30-05-2026, 14:58 WIB
Persib Bandung Pastikan Sanksi FIFA Tidak Ganggu Aktivitas Klub
Sabtu / 30-05-2026, 14:58 WIB
Yasinta Moiwend Laporkan Film Pesta Babi ke Polda Metro, Sorotan Publik Beralih ke Biaya Perjalanan dari Papua
Sabtu / 30-05-2026, 14:54 WIB






