Ia sebelumnya menyebut label “nepo kid” sebagai tafsir tidak adil dan menegaskan ayahnya mengembalikan setiap rupiah dari layanan publik kepada masyarakat.

Fokus Bergeser ke Korupsi

Meski tren “nepo babies” meredup, sentimen terhadap nepotisme dan korupsi belum hilang. Dipika Saru Mugar, yang ikut berdemo dengan poster “no more nepotism”, menilai perhatian publik kini bergeser.

“Saya rasa banyak orang sudah melupakan tren nepo babies. Perhatian kita sekarang sangat pendek,” ujarnya.

Data Transparency International menunjukkan 84 persen warga Nepal menganggap korupsi pemerintah sebagai masalah besar. Pada Desember, lima mantan menteri termasuk dalam 55 orang yang didakwa terkait dugaan penggelembungan biaya pembangunan bandara baru sebesar 74 juta dolar AS.

Kasus lain melibatkan dua mantan menteri kabinet yang dituduh terlibat skema dokumen palsu agar warga Nepal dapat masuk ke Amerika Serikat sebagai pengungsi Bhutan.

Janji Perubahan dari Partai

Partai-partai politik berupaya merespons tekanan publik dengan serangkaian janji reformasi.

Rastriya Swatantra Party yang relatif baru berjanji memperkuat akuntabilitas lembaga konstitusional. Partai Komunis Nepal UML menyatakan komitmen melibatkan pemuda dalam transformasi politik dan pembangunan nasional.

Nepali Congress mengusulkan penyelidikan tingkat tinggi atas aset pejabat publik sejak 1991 serta mengganti posisi ketua partai yang sebelumnya dijabat lima kali oleh Sher Bahadur Deuba.

Pernikahan mewah putranya, Jaiveer Singh Deuba, dengan penyanyi Shivana Shrestha sempat menjadi simbol kemarahan publik terhadap “nepo kids”. Akun media sosial pasangan tersebut kini juga tak lagi aktif.

Rakshya Bam, salah satu tokoh Gen Z Nepal, menilai pembatasan masa jabatan dan jumlah periode menteri sebagai langkah awal yang positif. Namun ia menekankan perubahan struktural tidak akan mudah, terlebih jika pemerintahan koalisi kembali terbentuk.

Bagi Dipika, yang menempuh perjalanan 16 jam untuk memberikan suara pertamanya dalam pemilu umum, ingatan atas korban protes tahun lalu menjadi pengingat penting.

“Pemberontakan itu lahir dari rasa sakit. Orang-orang harus mengingatnya saat memilih,” katanya. “Rakyat ingin penyelidikan yang lebih dalam terhadap korupsi. Banyak ketidakadilan terjadi dan saya ingin ada pertanggungjawaban.”