Menurut data Bank Dunia, sekitar setengah kurma yang dijual di Belanda dan lebih dari sepertiga di Prancis berasal dari Israel. Kedua negara tersebut berperan sebagai pusat pengemasan dan ekspor ulang ke negara Uni Eropa lainnya, termasuk Jerman.

Di Jerman, produk terkait Israel diperkirakan menyumbang sekitar 25 persen dari total pasokan kurma.

Kontroversi Kurma Medjool

Varietas Medjool premium menjadi pusat perdebatan. Data Pusat Promosi Impor dari negara berkembang (CBI) menyebut sekitar 50 persen kurma Medjool yang diekspor ke Eropa berasal dari Israel. Publikasi perdagangan makanan internasional bahkan memperkirakan angkanya bisa mencapai 75 persen.

Israel mengekspor sekitar 35.000 ton kurma per tahun. Namun, data sektor menyebut hanya sekitar 8.800 ton diproduksi di dalam perbatasan Israel yang diakui secara internasional, terutama di Lembah Arava.

Jika data tersebut akurat, maka sebagian besar volume ekspor diduga berasal dari perkebunan di Tepi Barat yang secara luas dianggap ilegal menurut hukum internasional.

Istilah “pencucian kurma” pun muncul untuk menggambarkan praktik pelabelan alternatif, termasuk penggunaan label negara seperti Belanda, Maroko, Uni Emirat Arab, atau Palestina.

Aturan Pelabelan Uni Eropa

Putusan Mahkamah Eropa tahun 2019 mewajibkan produk dari permukiman Israel diberi label yang jelas dan tidak hanya dicantumkan sebagai “produk Israel”. Aturan ini bertujuan mencegah konsumen tersesat dalam menentukan asal barang.

Para pengamat mendorong konsumen memeriksa kode batang dan informasi asal produk secara cermat, terutama menjelang Ramadan ketika permintaan kurma meningkat signifikan.

Di sisi lain, sektor pertanian Israel dilaporkan menghadapi tekanan akibat kampanye boikot dan gangguan logistik terkait konflik Gaza. Sejumlah pengecer Eropa dilaporkan mulai meninjau ulang kebijakan pengadaan mereka.

Isu transparansi rantai pasok dan pelabelan ini diperkirakan terus menjadi perhatian di pasar Eropa dalam waktu dekat.