Siapa Anak dan Istri Habib HRA? Sosok Ulama yang Diduga Melecehkan Ratu Qorry Secara Seksual di Hotel, Bukan Orang Sembarangan?

Siapa Anak dan Istri Habib HRA? Sosok Ulama yang Diduga Melecehkan Ratu Qorry Secara Seksual di Hotel, Bukan Orang Sembarangan?

Qory-Instagram-

Siapa Anak dan Istri Habib HRA? Sosok Ulama yang Diduga Melecehkan Ratu Qorry Secara Seksual di Hotel, Bukan Orang Sembarangan?
Nama Ratu Qorry tiba-tiba menjadi sorotan nasional setelah ia berani tampil di depan publik dan mengungkap pengalaman traumatis yang dialaminya: pelecehan seksual oleh seorang tokoh agama yang dikenal masyarakat sebagai “habib” berinisial HRA. Pengakuan ini bukan sekadar curahan hati, melainkan bagian dari upaya panjangnya menuntut keadilan—yang hingga kini, menurutnya, masih menggantung tanpa kejelasan.

Melalui wawancara eksklusif di kanal YouTube dr. Richard Lee, Ratu Qorry tidak hanya menceritakan detil kejadian yang menimpanya pada tahun 2024, tetapi juga mengungkap fakta mengejutkan: ia bukan satu-satunya korban. Setidaknya, ada 10 perempuan lain yang menghubunginya dan mengaku mengalami nasib serupa.



Awal Pertemuan: Mencari Pencerahan, Justru Terjebak dalam Jerat Manipulasi

Ratu Qorry mengaku awalnya mendatangi kajian yang diisi oleh Habib HRA karena sedang mengalami krisis dalam rumah tangganya. Ia berharap mendapatkan nasihat spiritual dan bimbingan keagamaan yang bisa membantunya memperbaiki hubungan dengan sang suami. Namun, harapan itu justru berubah menjadi mimpi buruk.

“Saya datang dengan niat baik, mencari pencerahan sebagai seorang istri yang sedang kesulitan,” ungkap Ratu Qorry dengan suara bergetar. Alih-alih mendapat bimbingan, ia justru menjadi sasaran rayuan manipulatif dari sang habib.


Menurut pengakuannya, pertemuan pertama mereka berlangsung sangat intens—hampir selama sembilan jam. Dalam rentang waktu itu, Habib HRA mulai menunjukkan sikap yang tidak pantas, meskipun Ratu Qorry sudah beberapa kali menunjukkan penolakan.

Modus Pelecehan: Dari Pelukan “Suci” hingga Tekanan Emosional

Salah satu bagian paling mengguncang dari pengakuan Ratu Qorry adalah deskripsi tentang bagaimana pelecehan itu dimulai. Awalnya, Habib HRA meminta pelukan dengan dalih “keakraban spiritual”. Saat Ratu Qorry enggan, sang habib tetap bersikeras.

“Dia bilang, ‘Qorry, kamu gak mau peluk saya?’ Lalu dia beranjak dari kursinya, mencium kening saya, lalu membaringkan saya,” kenang Ratu Qorry.

Ia mengaku merasa seperti “terhipnotis” oleh bujuk rayu sang habib. Bukan karena keinginan, melainkan karena tekanan psikologis dan manipulasi emosional yang terus-menerus. “Ada arah-arah ke situ… kayak aku dibujuk rayu, kayak terhipnotis mungkin,” ujarnya.

Fakta ini menyoroti bahaya kekuasaan karismatik yang dimiliki oleh tokoh agama—di mana otoritas spiritual bisa disalahgunakan untuk melanggar batas personal, bahkan menyalahgunakan kepercayaan jemaah.

Pelaporan ke Aparat dan Nasib Hukum yang Tak Jelas

Ratu Qorry menegaskan bahwa kasus ini bukan hanya isapan jempol atau gosip belaka. Ia telah melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwajib. Namun, sayangnya, proses hukumnya tidak berlanjut dengan tegas.

“Sempat viral, tapi setelah itu menggantung. Tidak ada kepastian hukum,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Padahal, menurut catatan hukum Indonesia, pelecehan seksual—apalagi yang dilakukan oleh pihak yang memiliki posisi otoritatif—merupakan tindakan pidana yang bisa dikenai pasal berat. Namun, dalam praktiknya, kasus seperti ini sering kali terhambat oleh stigma sosial, kurangnya bukti konkret, atau bahkan tekanan dari lingkungan sekitar korban.

Bukan Kasus Tunggal: Ada 10 Korban Lain yang Bersuara

Salah satu elemen paling penting dalam pengakuan Ratu Qorry adalah pengungkapan bahwa ia bukan satu-satunya korban. Setelah videonya viral, setidaknya 10 perempuan lain menghubunginya secara pribadi dan menyatakan bahwa mereka juga pernah mengalami perlakuan tidak senonoh dari Habib HRA.

“Mereka datang dengan cerita yang sangat mirip—dijanjikan bimbingan spiritual, lalu dimanipulasi secara emosional, dan akhirnya dilecehkan,” ungkap Ratu Qorry.

Keberanian para korban ini untuk berbicara—meski hanya melalui jalur pribadi—menunjukkan betapa sistemiknya masalah ini. Ini bukan sekadar kesalahan individu, tapi gejala dari struktur kekuasaan yang tidak diawasi, di mana figur agama bisa menyalahgunakan pengaruhnya tanpa pertanggungjawaban.

TAG:
Sumber:

l3

Berita Lainnya