Siapa Wang Ning? Sosok Dibalik Boneka Labubu yang Viral Ternyata Pengusaha Muda Asal China
Wang Ning, seorang pengusaha muda asal China, adalah pendiri sekaligus pemilik Pop Mart. Wang Ning telah membawa Pop Mart menjadi salah satu perusahaan mainan terbesar di China, bahkan memiliki pangsa pasar lebih dari 10 persen di negara tersebut. Seiring dengan popularitas boneka Labubu, nama Wang Ning pun semakin dikenal luas, termasuk di kalangan masyarakat Indonesia.
Berdasarkan laporan Forbes, kekayaan Wang Ning pada September 2023 telah mencapai angka US$4,2 miliar atau sekitar Rp63,35 triliun. Kekayaannya yang luar biasa ini membuatnya masuk dalam daftar orang terkaya di dunia, tepatnya menduduki peringkat ke-817.
Wang Ning lahir pada tahun 1987 di Provinsi Henan, China. Ia menyelesaikan pendidikan di Universitas Zhengzhou pada 2009 dan memulai kariernya di perusahaan media digital bernama Sina, yang merupakan anak usaha dari Weibo. Namun, karier Wang di dunia digital tak berlangsung lama. Pada 2010, ia memutuskan untuk merintis perusahaannya sendiri, Pop Mart.
Inspirasi mendirikan Pop Mart datang dari perjalanan Wang ke Hong Kong. Di sana, ia mengamati banyak gerai ritel yang menjual berbagai produk yang sedang tren. Dari situ, Wang melihat peluang untuk membawa konsep serupa ke pasar China yang saat itu belum memiliki toko ritel serupa.
Perjalanan bisnis Wang tidak selalu mulus. Pada awal berdirinya Pop Mart, ia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari masalah manajemen inventaris hingga layanan pelanggan. Wang terus bereksperimen dengan berbagai jenis produk hingga akhirnya menemukan ceruk pasar yang cocok.
Pada tahun 2014, Wang melanjutkan studinya di Sekolah Manajemen Guanghua Universitas Peking. Di sana, ia bertemu dengan orang-orang yang berpikiran sama, yang kemudian menjadi mitra penting dalam pengembangan Pop Mart. Perusahaan ini mulai benar-benar melejit setelah Wang dan timnya berhasil menciptakan produk-produk ikonik yang berhasil mencuri perhatian konsumen muda di China.
Salah satu momen penting dalam perjalanan bisnis Pop Mart adalah saat pandemi COVID-19 melanda dunia. Meski banyak bisnis yang terpukul akibat pandemi, Pop Mart justru berhasil bertahan dan bahkan berkembang. Wang dengan cermat mengarahkan perusahaannya untuk beralih dari penjualan di gerai fisik ke platform e-commerce. Mereka memanfaatkan platform milik perusahaan seperti Paqu, serta situs belanja populer seperti Tmall, untuk tetap menjangkau konsumennya.
Baca juga: Ternyata Ini Peran 2 Pria dalam Pembunuhan Bocah di Cilegon, Dibayar Segini
Update Terbaru
Jadwal Pembelian Tiket Timnas Indonesia di Piala AFF 2026, Ada Dua Tahap
Jumat / 17-07-2026, 13:13 WIB
Revitalisasi Pendidikan: Strategi Pemerintah Cetak Generasi Unggul
Jumat / 17-07-2026, 13:13 WIB
Viral WNI Diduga Kabur Saat Tur di Korsel, Kemlu RI Angkat Bicara
Jumat / 17-07-2026, 13:12 WIB
5 Toko Resmi Tempat Membeli Smartwatch Garmin Original di Indonesia
Jumat / 17-07-2026, 13:08 WIB
Kekasih Sarwendah Klaim Tak Mau Balas Rumor Negatif dengan Marah
Jumat / 17-07-2026, 13:07 WIB
Google Search AI Mode Kini Dukung Aplikasi Pihak Ketiga
Jumat / 17-07-2026, 13:07 WIB
Lava Virat V1 5G dan Virat V1 Resmi Meluncur 24 Juli, Ini Spesifikasinya
Jumat / 17-07-2026, 13:07 WIB
Peneliti Kembangkan Metode Ubah Sampah Plastik Jadi Hidrogen Tanpa Pemilahan
Jumat / 17-07-2026, 13:07 WIB
5 Varian Sheet Mask Becoming B5 dengan Panthenol, Bikin Wajah Glowing dan Kenyal
Jumat / 17-07-2026, 13:07 WIB
5 Rekomendasi Jam Tangan Seiko untuk Pegawai Bergaji UMK, Semua di Harga Rp2 Jutaan
Jumat / 17-07-2026, 13:07 WIB
Steve Lacy Buka Suara soal Trauma, Ketenaran, dan Album Baru 'Oh Yeah?'
Jumat / 17-07-2026, 13:00 WIB
Program Tari Salsa Kurangi Depresi dan Kecemasan pada Dewasa Muda
Jumat / 17-07-2026, 12:59 WIB
Redmi Pad 2 Tablet Harga 2 Jutaan: Mampuh Main Game?
Jumat / 17-07-2026, 12:59 WIB
Berapa Banyak Kuota yang Digunakan Saat Main Game Online?
Jumat / 17-07-2026, 12:59 WIB







