Kabar duka yang menyelimuti kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, belakangan ini menggegerkan publik. Seorang petugas keamanan (satpam) ditemukan tewas dalam kondisi yang mengenaskan di area Tanggul Hayat. Tangan korban terborgol rapat dan mulutnya dilakban, memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat.
 
Korban yang dikenal dengan nama Sumarna (40) ini meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan rekan-rekan sekerjanya. Di tengah kabut misteri yang menyelimuti kasus ini, pihak keluarga kini bulat tekad untuk mengungkap kebenaran di balik kematian sang ayah, suami, dan saudara tersebut. Mereka menyatakan persetujuan penuh terhadap proses autopsi, berharap langkah medis forensik ini dapat menjadi kunci jawaban atas teka-teki yang hingga kini belum terpecahkan.
 

Keluarga Bulat Tekad, Autopsi Jadi Kunci Pencari Keadilan

Keputusan untuk melakukan autopsi bukanlah hal yang mudah bagi keluarga yang sedang berduka. Namun, desakan untuk mengetahui penyebab pasti kematian Sumarna mendorong mereka untuk menempuh jalur hukum dan medis ini.
 
Paman korban, yang akrab disapa Ocid, secara tegas menyampaikan bahwa seluruh anggota keluarga inti telah mencapai mufakat. Ia telah mengonfirmasi hal ini langsung kepada kakak, adik, serta istri almarhum.
 
"Tadi saya sudah menghubungi kakak korban dan adik korban, dan istri korban sudah menyetujui proses autopsi. Ini kami lakukan agar bisa diketahui secara pasti penyebab kematiannya. Kami ingin keadilan bagi Sumarna," jelas Ocid dengan nada suara yang dipenuhi harapan akan kejelasan.
 
Proses visum et repertum dan autopsi tersebut dilaksanakan secara ketat di Rumah Sakit Sartika Asih, Bandung. Pihak rumah sakit dan tim forensik kepolisian bekerja secara profesional untuk memastikan setiap temuan medis tercatat dengan akurat. Hasil dari pemeriksaan mendalam ini nantinya akan disampaikan secara resmi oleh pihak berwenang kepada keluarga dan publik, sebagai bentuk transparansi dalam proses penegakan hukum.