Transformasi Menjadi Pelatih Visioner dan Penguasa Galatama

Setelah menggantung sepatu, M Basri tidak meninggalkan dunia yang dicintainya. Ia beralih peran menjadi pelatih, dan di sinilah nama "Om Basri" semakin bersinar dan disegani. Kemampuannya dalam membaca permainan dan memanage ego pemain membuatnya menjadi salah satu pelatih paling dicari di masanya.
 
Keberhasilan pertamanya sebagai pelatih ia raih bersama Persebaya Surabaya, di mana ia berhasil mengantarkan tim "Bajul Ijo" meraih gelar juara Perserikatan pada tahun 1977. Prestasi ini semakin mengukuhkan reputasinya sebagai pelatih yang mampu membawa tim menuju puncak.
 
Era 1980-an menjadi masa keemasan M Basri di kompetisi Galatama. Ia menangani Niac Mitra dan mengubah tim tersebut menjadi mesin juara yang menakutkan. Di bawah komandonya, Niac Mitra berhasil menyabet tiga gelar juara Galatama, masing-masing pada tahun 1981, 1982, dan 1986. Dominasi ini membuktikan bahwa M Basri memiliki filosofi kepelatihan yang adaptif dan konsisten, mampu bertahan di puncak kompetisi yang sangat kompetitif.
 

Sentuhan Magis dan Era "Trio Basiska" di Timnas Indonesia

Puncak pengakuan nasional terhadap kapasitas kepelatihannya datang ketika ia dipercaya menangani Timnas Indonesia pada tahun 1983 dan kembali pada 1989. Prestasi terbaiknya bersama tim Merah Putih terjadi pada SEA Games 1989.
 
Pada ajang tersebut, M Basri membentuk sebuah tim kepelatihan legendaris yang dikenal dengan sebutan "Trio Basiska", yang terdiri dari dirinya, Iswadi Idris, dan Abdul Kadir. Sinergi ketiga legenda ini menghasilkan harmoni yang luar biasa, membawa Timnas Indonesia meraih medali perunggu SEA Games 1989. Pencapaian ini bukan sekadar tentang medali, melainkan tentang bagaimana mereka mampu membangkitkan semangat dan taktik permainan tim nasional di tengah tekanan kompetisi regional yang ketat.