Kehidupan seringkali menghadirkan kejutan yang tak terduga, terkadang dalam bentuk duka yang begitu mendalam dan datang tanpa aba-aba. Hal inilah yang dialami oleh keluarga besar dr. Muhammad Zulfikar Drakel, M.Res., seorang dokter muda berprestasi asal Sampit, Kalimantan Tengah. Kabar meninggalnya sang putra bungsu di Kota Metro, Lampung, pada Selasa (21/7/2026) malam, meninggalkan luka yang dalam dan rasa syok yang sulit diterima oleh kerabat terdekat.
 
Malam Senin (20/7/2026) tercatat sebagai momen komunikasi terakhir yang penuh kehangatan antara Zulfikar dengan keluarganya. Dokter muda tersebut masih sempat menelepon sang ibu untuk sekadar bersilaturahmi dan menanyakan kabar. Bagi Djunaedi Drakel, ayah dari almarhum, percakapan itu berlangsung sangat normal dan sama sekali tidak memancarkan firasat buruk atau tanda-tanda bahwa itu akan menjadi perbincangan terakhir mereka.
 
"Malam Senin itu ibunya masih komunikasi dengan dia. Suaranya baik-baik saja, tidak ada tanda-tanda aneh atau firasat apa pun. Semuanya terasa sangat biasa, seperti percakapan anak dan ibu pada umumnya," ujar Djunaedi dengan suara bergetar saat ditemui di rumah duka keluarga di Jalan Kapten Mulyono, Sampit, pada Kamis (23/7/2026).
 
Syok dan Keraguan: Dikira Modus Penipuan Berkedok Kabar Duka
 
Namun, suasana kehangatan itu mendadak runtuh pada Selasa malam. Keluarga di Sampit dikejutkan oleh telepon dari pihak Kepolisian Resor (Polres) Metro, Lampung, yang menyampaikan kabar duka bahwa Zulfikar ditemukan meninggal dunia.
 
Reaksi awal Djunaedi bukanlah kesedihan yang langsung meledak, melainkan keraguan yang mendalam. Di tengah maraknya kasus kejahatan siber dan modus penipuan berkedok kabar duka atau penculikan yang belakangan sering terjadi di masyarakat, sang ayah secara naluriah menolak untuk langsung mempercayai informasi tersebut.