Estafet Kepemimpinan di Kursi 'Panas' BGN

Pengunduran diri Nanik menambah panjang daftar gejolak di tubuh Badan Gizi Nasional. Perlu diingat, Nanik baru saja dilantik oleh Presiden Prabowo pada 8 Juni 2026 lalu.
 
Ia ditugaskan untuk membereskan kekacauan dan melanjutkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi unggulan pemerintah. Nanik ditunjuk untuk menggantikan Dadan Hindayana, Kepala BGN sebelumnya yang dicopot secara tidak hormat oleh Prabowo.
 
Pencopotan Dadan kala itu menjadi berita besar nasional. Ia diduga tersangkut kasus korupsi yang merugikan negara dalam pengadaan program MBG. Hingga saat ini, status hukum Dadan Hindayana telah naik menjadi tersangka dan tengah menjalani proses penyidikan.
 
Pengangkatan Nanik saat itu didasarkan pada Keputusan Presiden (Keppres) nomor 18/M tahun 2026 tentang pemberhentian dan pengangkatan kepala serta wakil kepala BGN, sekaligus pemberhentian Wakil Kepala BPKP. Istana berharap sosok Nanik yang dikenal bersih dan teliti mampu mereformasi tata kelola BGN.
 

Sorotan Publik dan Tantangan BGN ke Depan

Mundur Nanik di tengah jalan tentu menjadi catatan penting bagi pemerintah. Hal ini mengindikasikan bahwa mengelola Badan Gizi Nasional bukan sekadar urusan teknis pembagian gizi, melainkan sebuah tantangan raksasa yang melibatkan anggaran triliunan rupiah, logistik nasional, hingga pengawasan ketat dari berbagai pihak.
 
Kini, publik menantikan siapa yang akan ditunjuk Presiden Prabowo untuk mengisi kursi Kepala BGN yang kembali lowong. Apakah akan ada reshuffle besar-besaran, ataukah Istana akan mempromosikan pejabat internal yang sudah memahami seluk-beluk program MBG?
 
Yang pasti, dengan potensi Nanik sebagai Ketua Dewan Pengawas, masyarakat berharap fungsi check and balance di tubuh BGN akan berjalan lebih optimal, sehingga program gizi gratis untuk anak-anak Indonesia dapat berjalan bersih, tepat sasaran, dan bebas dari jerat korupsi.