Kementerian Perindustrian (Kemenperin) buka suara terkait maraknya kendaraan niaga impor utuh atau completely built up (CBU) dengan harga murah yang masuk ke Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta mengatakan industri kendaraan niaga nasional tengah menghadapi persaingan ketat dari produk impor.

>>> Saksi Ungkap Detik-detik Ledakan di Rumah Mewah Grand Polonia Medan

Berdasarkan data TPT impor, sebanyak 15.850 unit kendaraan niaga (bus, truk, dan pikap) masuk ke Indonesia pada Januari-Juni 2026.

Dari jumlah tersebut, 32,9 persen berasal dari merek Jepang, 31,8 persen dari India, 31,4 persen dari China, dan 3,9 persen dari merek lainnya.

Dampak dan Langkah Strategis

Setia Diarta menyampaikan jika kondisi ini terus berlanjut tanpa penanganan yang tepat, risiko terhadap industri dalam negeri bisa meningkat.

Ia menyebutkan beberapa dampak yang mungkin terjadi, antara lain penurunan utilisasi kapasitas produksi, berkurangnya peluang penggunaan komponen lokal, tekanan pada keberlanjutan investasi, serta meningkatnya risiko pemutusan hubungan kerja.

>>> FIGC Kirim Maldini dan Leonardo Rayu Guardiola untuk Latih Timnas Italia

Oleh karena itu, langkah strategis harus segera diambil pemerintah. Salah satunya dengan merumuskan kebijakan yang mendukung iklim usaha sehat dan berkeadilan.

Harmonisasi kebijakan fiskal dan non-fiskal juga diperlukan sebagai instrumen pengendalian impor yang efektif, namun tetap selaras dengan komitmen perdagangan internasional.

Di sisi lain, pelaku industri didorong untuk meningkatkan efisiensi dan inovasi guna memperkuat kualitas produk serta daya saing global.

>>> 15 Kalimat Afirmasi Positif untuk Bangun Percaya Diri Anak

"Pertahankan juga pangsa pasar domestik dan perluas penetrasi pasar ekspor," ujar Setia Diarta.