Presiden Nikaragua Daniel Ortega secara terbuka menyatakan bahwa pemilu demokratis telah berakhir di negaranya. Pernyataan itu disampaikan dalam pidato publik di Managua pada Minggu, 19 Juli 2026.

Berbicara pada peringatan 47 tahun revolusi Sandinista, Ortega yang berusia 80 tahun menegaskan bahwa pemerintahannya akan sepenuhnya menghalangi oposisi untuk kembali meraih kekuasaan politik.

>>> Daftar HP Realme 2026: Dari Seri GT hingga C Series, Harga Mulai Rp1 Jutaan

Pengumuman ini mengikuti serangkaian reformasi konstitusi yang disahkan pada awal 2025.

Reformasi tersebut memperpanjang masa jabatan presiden menjadi enam tahun dan mengonsolidasikan kekuasaan absolut di bawah Ortega dan istrinya, Rosario Murillo.

Menurut laporan DW dan CNN, pemilu umum berikutnya yang semula dijadwalkan November 2026 secara efektif diundur menjadi November 2027 di bawah kerangka baru tersebut.

Dalam pidatonya, Ortega mengkritik keras anggota oposisi yang berada di pengasingan. Ia menyebut mereka sebagai musuh tersembunyi yang hanya mencari keuntungan finansial melalui lembaga publik.

"Mereka ingin memenangkan pemilu untuk menghasilkan uang dari sekolah-sekolah.

Tapi lupakan saja, tidak akan ada lagi pemilu di sini, sehingga mereka mencoba merebut pemerintahan, merebut kekuasaan," ujar Ortega.

Presiden juga menegaskan bahwa Majelis Nasional yang pro-pemerintah akan membuat hambatan legislatif untuk mencegah lawan politik berpartisipasi dalam proses apa pun di masa depan.

"Kami akan bekerja dengan Majelis Nasional dan organisasi terkait untuk membuat undang-undang yang membangun tembok, penghalang, bagi para kudeta, pengkhianat tanah air.

Tidak peduli berapa banyak uang yang diberikan Yankee kepada mereka, mereka tidak akan bisa," kata Ortega.

Organisasi hak asasi manusia dan tokoh oposisi segera mengecam pernyataan tersebut. Mereka menilainya sebagai pukulan terakhir bagi struktur demokrasi yang tersisa di negara itu.