Clancy dan suaminya mengajukan gugatan perdata awal tahun ini terhadap penyedia medisnya, dengan tuduhan kegagalan sistematis dalam mendiagnosis dan mengobati kondisi kejiwaannya yang parah.

>>> Amway Indonesia Dorong Gaya Hidup Sehat dan Kemandirian Finansial di Usia ke-34

Sebelum kejadian, ia secara sukarela masuk ke rumah sakit jiwa dan mencari intervensi krisis, melaporkan halusinasi pendengaran.

"Lindsay Clancy melakukan semua yang bisa dilakukan seorang ibu dalam situasinya. Dia menyadari ada yang salah dengan dirinya.

Dia mencari perawatan medis. Dia pergi ke ruang gawat darurat.

Dia menelepon hotline krisis. Dia memasukkan dirinya ke rumah sakit.

Dia minum obat yang diresepkan. Dia mengomunikasikan gejala yang memburuk kepada penyedianya.

Dia memberi tahu mereka bahwa obat-obatan itu membuatnya semakin parah," demikian bunyi gugatan perdata.

Laporan menunjukkan Clancy mengatakan kepada penyidik bahwa ia mendengar suara-suara yang memerintahkannya untuk menyakiti anak-anaknya dan dirinya sendiri pada hari pembunuhan.

Meskipun ada tuntutan pidana, suaminya, Patrick Clancy, menyatakan pengampunan dalam pernyataan publik yang dirilis tak lama setelah tragedi itu.

"Lindsay yang sebenarnya sangat penyayang dan peduli terhadap semua orang — saya, anak-anak kami, keluarga, teman, dan pasiennya. Serat jiwanya penuh kasih.

Yang saya harapkan sekarang adalah dia bisa menemukan kedamaian," tulis Patrick Clancy.

Untuk memastikan keadilan, Hakim Sullivan menolak mosi pembela untuk mengisolasi juri, dan berkomitmen untuk melakukan pemeriksaan harian guna memastikan juri tidak mengikuti liputan media selama persidangan.

"Pembunuhan ketiga anak Clancy akibat pencekikan.

>>> Bank Jakarta Terapkan eForm di KCP Kebayoran Park, Transaksi Kini Lebih Cepat Lewat QR Code

Seperti yang dinyatakan dalam mosi kami, tuduhan tersebut akan dimasukkan ke dalam dakwaan pembunuhan," kata juru bicara Kantor Kejaksaan Distrik Plymouth County.