Namun, Inggris bukanlah lawan yang mudah untuk ditaklukkan. The Three Lions berhasil meredam gelombang serangan Prancis dan kembali menunjukkan ketajaman mereka di momen-momen krusial.
 
Harapan Prancis akhirnya dikubur secara definitif melalui tendangan penalti dingin yang dieksekusi Bukayo Saka pada menit ke-87. Pukulan telak semakin lengkap ketika Jude Bellingham menutup pertandingan dengan gol solo run yang memukau di pengujung laga. Prancis hanya mampu memperkecil ketertinggalan lewat gol hiburan dari Ousmane Dembele sebelum peluit panjang dibunyikan.
 
Warisan Deschamps: Lebih Besar dari Satu Laga
 
Kekalahan dengan skor 4-6 ini tentu menjadi noda hitam di catatan akhir karier internasional Didier Deschamps. Namun, melihat secara keseluruhan, warisan yang ditinggalkan pelatih berusia 57 tahun itu sangatlah monumental.
 
Sejak mengambil alih kemudi Timnas Prancis pada 2012, Deschamps telah mempersembahkan satu trofi Piala Dunia yang diraih pada 2018 di Rusia. Ia juga membawa Prancis menjadi runner-up di EURO 2016 dan kembali ke panggung final Piala Dunia 2022 di Qatar. Ia adalah arsitek di balik transformasi Prancis menjadi salah satu kekuatan paling konsisten dan ditakuti di peta sepak bola dunia selama lebih dari satu dekade.
 
 
Mbappe Membela Mentor: "Kami Hanya Manusia"
 
Kapten Timnas Prancis, Kylian Mbappe, dengan berani angkat bicara untuk membela mentornya. Ia mengakui bahwa performa babak pertama memang sangat mengecewakan, namun ia menolak jika satu pertandingan buruk ini dianggap dapat menghapus jasa-jasa Deschamps.
 
"Ada dua babak yang sangat berbeda. Selama babak pertama, saya bisa mengerti mengapa beberapa orang berpikir kami mempermalukan diri sendiri dan tidak menghormati seragam yang kami kenakan," ujar Mbappe, sebagaimana dikutip dari Associated Press.