Sebuah babak besar dalam sejarah sepak bola Prancis resmi tertutup dengan rasa pahit yang mendalam. Didier Deschamps, arsitek kejayaan Les Bleus selama lebih dari satu dekade, menyudahi masa baktinya sebagai pelatih kepala tim nasional Prancis usai menelan kekalahan dramatis dengan skor 4-6 dari Inggris. Laga perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Miami Stadium pada Minggu (19/7) pagi WIB ini bukan sekadar pertandingan biasa, melainkan laga ke-185 yang sekaligus menjadi panggung perpisahan sang pelatih legendaris.
 
Suasana di Miami Stadium pagi itu terasa begitu emosional. Di satu sisi, ada euforia skuad Inggris yang berhasil menutup turnamen dengan kemenangan megah. Di sisi lain, ada keheningan yang menyelimuti para pemain Prancis, yang harus menelan pil pahit setelah menjalani pertandingan penuh gejolak. Meski kalah, cara Deschamps dan anak asuhnya berjuang hingga detik terakhir meninggalkan kesan yang tak mudah dilupakan oleh para pencinta sepak bola di seluruh dunia.
 

Babak Pertama yang Kelam dan Kebangkitan yang Terlambat

Laga sayonara ini berjalan di luar skenario yang dibayangkan oleh jutaan suporter Prancis di seluruh dunia. Les Bleus tampil sangat buruk di 45 menit pertama. Tekanan tinggi dari lini serang Inggris berhasil membongkar pertahanan Prancis yang tampak kehilangan arah. Skor telak 0-4 menjadi catatan kelam yang membayangi istirahat babak pertama, memicu desah kekecewaan yang keras dari tribun penonton.
 
Namun, sepak bola adalah tentang momentum dan mentalitas. Menjelang babak kedua, Deschamps terlihat memberikan instruksi tajam dan motivasi yang membakar semangat di ruang ganti. Perubahan taktis dan suntikan adrenalin yang diberikan sang pelatih membuahkan hasil. Prancis bangkit seperti raksasa yang tersadar dari tidur lelapnya. Mereka mencetak empat gol balasan secara berturut-turut dalam sebuah comeback yang begitu impresif dan heroik.
 
Sayangnya, lubang terlalu dalam yang tercipta di babak pertama tak bisa sepenuhnya ditutup. Upaya luar biasa di babak kedua tersebut, meski patut diacungi jempol, pada akhirnya gagal menyelamatkan Prancis dari kekalahan. Skor 4-6 menjadi catatan akhir yang menyegel perpisahan ini dengan rasa duka yang mendalam.