Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kecerdasan buatan (AI) dapat menjadi game-changer bagi perekonomian Indonesia.

Pernyataan itu disampaikan di Shanghai, Jumat malam waktu setempat. Ia optimistis Indonesia mampu bergerak maju bersama negara-negara lain dengan memanfaatkan AI.

>>> Marcellus Wiley Akui Pernikahan Tak Sempurna, Tapi Bantah Kekerasan

Hartarto memproyeksikan ekonomi digital Indonesia mencapai US$135 miliar pada 2026 dan melonjak menjadi US$366 miliar pada 2030.

Hal ini sejalan dengan proposal Indonesia dalam ASEAN Digital Economy Framework Agreement yang dijadwalkan ditandatangani pada masa keketuaan Filipina tahun ini.

"Kerangka ini akan menggandakan ekonomi digital ASEAN dari US$1 triliun menjadi US$2 triliun, sekaligus meningkatkan potensi Indonesia dari US$400 miliar menjadi US$600 miliar," ujar Hartarto seperti dikutip ANTARA.

Menurut Hartarto, pengembangan ekonomi digital dan AI bukan hal baru bagi Indonesia.

Pemerintah telah meluncurkan peta jalan Making Indonesia 4.0 pada 2018 yang mencakup AI sebagai komponen inti.

>>> Lee Chae Young fromis_9 Buka Suara soal Kontroversi Rokok Elektrik 2023

Potensi Pendapatan hingga US$2 Triliun

"AI berpotensi meningkatkan pendapatan Indonesia.

Dalam skenario business-as-usual, potensinya mencapai US$400 miliar pada 2030, namun jika diimplementasikan bersama kerangka ekonomi digital, angka itu bisa naik hingga US$2 triliun," tambahnya.

Sebagai negara penandatangan World Artificial Intelligence Cooperation Organisation (WAICO), Indonesia tergolong anggota pendiri organisasi tersebut. Hal ini memberikan akses langsung ke diskusi tingkat tinggi mengenai pengembangan AI.

Pada Kamis, Hartarto mewakili Indonesia dalam upacara penandatanganan deklarasi pendirian WAICO di Shanghai.

Ia menuturkan bahwa dengan memanfaatkan WAICO, Indonesia dapat memperluas peluang transfer teknologi, investasi, dan pengembangan pusat riset AI.

>>> YOUNG POSSE Umumkan Tur Eropa Perdana 'Pilot3' untuk Perluas Dominasi Hip-Hop Global

Selain itu, produktivitas dan daya saing startup lokal serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) juga dapat ditingkatkan.