Penyesuaian Karakter di Setiap Lokasi Mal

Atas keberhasilan dan kebutuhan akan pagar di properti terbesar mereka, evaluasi dan implementasi serupa kemudian diterapkan pada properti Pakuwon Group lainnya. Namun, pendekatannya disesuaikan dengan karakter dan kebutuhan spesifik masing-masing kawasan.
 
Di Royal Plaza, misalnya, keberadaan pagar bukanlah hal yang benar-benar baru. Pagar sebenarnya sudah ada sejak mal ini pertama kali beroperasi pada tahun 2006. Langkah yang diambil saat ini hanyalah peremajaan (revitalization).
 
"Jadi, pagar itu sudah hampir 20 tahun usianya. Bahannya dari besi holo yang sudah lama terpapar hujan dan panas, sehingga banyak bagian yang keropos dan tidak layak. Maka, sekalian kami lakukan penggantian dengan yang baru dan lebih kokoh," jelas Sutandi.
 
Sementara itu, Pakuwon City Mall juga dipagari karena memiliki karakteristik area terbuka yang sangat luas, mirip dengan Pakuwon Mall, sehingga membutuhkan standar pengamanan perimeter yang serupa.
 
Adapun Tunjungan Plaza (TP) memiliki dinamika yang sedikit berbeda. Berlokasi strategis di Jalan Basuki Rahmat yang merupakan jantung Kota Surabaya, kawasan ini kerap menjadi jalur lintasan massa aksi yang menuju Gedung Negara Grahadi.
 
Meski demikian, Sutandi menegaskan bahwa pemasangan pagar di TP tetap berorientasi pada kenyamanan dan efisiensi kerja. "Kami juga merasa kasihan melihat satpam mal dan petugas keamanan kami yang setiap kali akan ada demo harus repot menarik dan menggeser barikade besi yang berat di depan mal. Dengan adanya pagar permanen, pengelolaan kawasan menjadi jauh lebih mudah dan manusiawi bagi para petugas," sambungnya.
 

 

Desain Diseragamkan: Keamanan di Atas Estetika Semata

Selain alasan fungsional, Sutandi juga mengungkapkan bahwa desain pagar di seluruh pusat perbelanjaan Pakuwon Group kini diseragamkan. Tujuannya adalah untuk menciptakan identitas visual yang konsisten sekaligus memprioritaskan aspek keamanan.
 
"Kalau setiap mal membuat model pagar sendiri-sendiri, pengelolaannya akan pusing dan tidak terstandar. Dari segi keamanan (security), desain yang terlalu estetis seringkali justru less secure. Contohnya, jika hanya menggunakan pagar tanaman, orang tetap bisa melewatinya dengan mudah," kata pria berkacamata tersebut memberikan analogi.
 
Ia menambahkan, analogi sederhananya sama seperti ketika seseorang memiliki rumah. "Ketika kita punya rumah, kita bikin pagar tujuannya apa? Tentu untuk keamanan. Kita merasa lebih aman, nyaman, dan bisa tidur dengan nyenyak. Prinsip yang sama kami terapkan di kawasan komersial ini."
 
Menanggapi ramainya spekulasi di media sosial yang menyebut manajemen sudah "membau" akan ada demonstrasi besar atau kerusuhan, Sutandi menanggapinya dengan santai dan penuh humor.
 
"Semua murni bukan karena alasan apa-apa. Apalagi netizen kan sangat kreatif, sampai mengatakan kita sudah tahu akan ada kerusuhan. Hehehe, kami ini bukan dukun yang bisa tahu keadaan ke depan bagaimana," canda pria alumni Career Business College, Darlinghurst, Sydney, Australia itu.
 
Ia juga membantah keras anggapan bahwa pembangunan pagar berkaitan dengan kondisi ekonomi makro. "Banyak netizen berspekulasi akan ada demo besar. Kita tidak bisa memprediksi hal tersebut, dan tidak ada antisipasi khusus terkait itu. Kami yakin Indonesia aman, sejahtera, dan NKRI harga mati," tegasnya.