The Lord of the Rings kini menjadi salah satu novel paling berpengaruh abad ke-20.

Pembaca Guardian baru-baru ini menempatkannya di peringkat pertama dalam daftar 100 novel terbaik sepanjang masa.

Tolkien sendiri menolak interpretasi alegoris atas karyanya. Namun, kisah tentang kemenangan pihak yang terpinggirkan telah diadopsi oleh berbagai gerakan, termasuk sayap kanan.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni dan Wakil Presiden AS JD Vance mengaku sebagai penggemar.

Nama perusahaan modal ventura Vance, Narya, dan perusahaan pertahanan Peter Thiel, Palantir, diambil dari dunia Tolkien.

The Lord of the Rings seharusnya tidak menjadi senjata dalam perang budaya. Pesan utamanya adalah bahwa kejahatan hanya bisa dikalahkan oleh persatuan berbagai bangsa.

Kisah ini adalah drama tentang persahabatan, keberanian, dan bahaya kekuasaan. Buku dan film telah menjadi teman bagi banyak anak muda dalam perjalanan mereka menuju dewasa.

Seperti yang dibuktikan oleh kesuksesan The Odyssey karya Nolan, seni besar dapat ditafsirkan ulang untuk era baru. Anak-anak dari semua ras sudah melihat diri mereka di Middle-earth.

Seperti kata Bilbo Baggins kepada Frodo: 'Petualangan tidak pernah berakhir, bukan? Seseorang pasti selalu melanjutkan cerita.'

>>> Liburan Keluarga Seru: Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Indonesia

Kita berutang kepada Tolkien dan generasi mendatang untuk membawa ceritanya ke arah yang benar.