Di sisi lain, kesadaran yang lebih tinggi mengenai kesehatan reproduksi membuat semakin banyak pasangan yang aktif mencari bantuan medis.

Sayangnya, kesadaran ini tidak selalu diiringi dengan kemudahan akses. Di banyak negara, tes dan perawatan kesuburan masih sangat mahal, terbatas, dan sulit dijangkau.

Akibatnya, permintaan masyarakat akan perawatan medis tumbuh jauh lebih cepat daripada ketersediaan layanannya.

Rocío Núñez Calonge, seorang ahli biologi dan pakar kesuburan yang tidak terlibat dalam penelitian ini, menekankan pentingnya perbaikan struktural di masyarakat.

"Di negara-negara seperti Spanyol, kita juga harus mengatasi faktor sosial yang membuat orang-orang menunda kehamilan. Ini termasuk keseimbangan kehidupan kerja, stabilitas ekonomi, serta dukungan kelembagaan," ujarnya.

Infertilitas bukanlah masalah yang hanya dihadapi oleh wanita.

Data global menunjukkan bahwa sekitar satu dari enam orang di seluruh dunia akan mengalami infertilitas pada suatu waktu dalam hidup mereka.

Kondisi ini memengaruhi sekitar 8 hingga 12 persen pasangan usia subur secara global.

>>> 4 Rekomendasi Moisturizer Lokal untuk Kulit Berminyak di Indonesia

Melalui temuan ini, para ahli berharap pemerintah di berbagai belahan dunia mulai merancang kebijakan sosial yang lebih ramah keluarga untuk membantu mengatasi tantangan reproduksi di masa depan.