Larangan Keras: Berbangga Diri di Atas Dosa adalah Pengkhianatan Fitrah

Ma’asyiral Muslimin, sidang Jumat yang dirahmati Allah SWT,
 
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, mari kita renungkan sebuah perilaku yang sangat dibenci oleh Allah SWT, namun ironisnya semakin marak di tengah masyarakat modern: berbangga diri dengan dosa.
 
Seorang Muslim sejati seharusnya merasa hina, cemas, dan malu ketika terjerumus dalam kemaksiatan. Namun, apa yang terjadi ketika seseorang justru merasa "hebat" atau bangga telah melanggar aturan Allah? Ini adalah tanda bahaya yang mengindikasikan jauhnya hati dari hidayah.
 
Allah SWT berfirman dengan sangat tegas dalam QS. Ali ‘Imran ayat 188:
 
لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ يَفْرَحُوْنَ بِمَآ اَتَوْا وَّيُحِبُّوْنَ اَنْ يُّحْمَدُوْا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوْا فَلَا تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِۚ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ
 
Artinya: "Jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gembira dengan apa (perbuatan buruk) yang telah mereka kerjakan dan suka dipuji atas perbuatan (yang mereka anggap baik) yang tidak mereka lakukan, kamu jangan sekali-kali mengira bahwa mereka akan lolos dari azab. Mereka akan mendapat azab yang sangat pedih."
 
Ayat ini bukan sekadar peringatan, melainkan vonis keras. Bahaya spiritual dari "merayakan" dosa adalah hilangnya rasa malu (haya'), yang merupakan cabang utama dari iman. Ketika rasa malu hilang, pintu-pintu kerusakan lainnya akan terbuka lebar.
 

 

Ancaman bagi Pelaku 'Mujaharah': Membuka Aib yang Sudah Ditutup Allah

Tidak hanya Al-Qur'an, Rasulullah SAW juga memberikan peringatan yang sangat spesifik melalui hadis yang mulia. Beliau melarang keras perbuatan mujaharah, yaitu bermaksiat secara terang-terangan atau memamerkan dosa.
 
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْجِهَارِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلًا ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ تَعَالَى فَيَقُولُ: عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ ، وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ