Konsistensi Kemanusiaan: Bukan yang Pertama Kali

Bagi yang mengikuti sepak bola Norwegia secara mendalam, langkah NFF ini bukanlah sebuah pencitraan dadakan. Federasi ini memiliki rekam jejak konsisten dalam menyuarakan isu kemanusiaan melalui olahraga.
 
Sebelumnya, pada Oktober 2025, NFF juga mengambil langkah kontroversial namun diapresiasi banyak pihak dengan mendonasikan seluruh keuntungan dari laga kualifikasi melawan Israel. Kala itu, dana dari penjualan tiket dan berbagai kontribusi tambahan berhasil mengumpulkan sekitar 4,5 juta kroner (setara kurang lebih Rp8 miliar) yang langsung diterbangkan untuk bantuan Gaza.
 
“Kali ini, kami tidak hanya menyisihkan sebagian, tetapi seluruh keuntungan yang diperoleh dari pesta sepak bola dunia. Ini adalah bentuk komitmen mutlak kami terhadap isu kemanusiaan,” tambah Klaveness.
 

Akar Sejarah: Warisan Perjanjian Oslo 1993

Mengapa Norwegia begitu vokal dan peduli terhadap Palestina? Jawabannya terletak pada akar sejarah dan diplomasi negara Skandinavia tersebut. Norwegia memiliki rekam jejak panjang sebagai mediator utama di Timur Tengah, yang memuncak pada Perjanjian Oslo 1993.
 
Di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Gro Harlem Brundtland, pemerintah Norwegia secara diam-diam memfasilitasi pertemuan bersejarah antara PLO yang dipimpin Yasser Arafat dan Israel di bawah PM Yitzhak Rabin. Perjanjian Oslo kala itu membuka jalan bagi pembentukan Otoritas Palestina dan otonomi terbatas di Tepi Barat serta Jalur Gaza.
 
Meski implementasi perjanjian tersebut pada akhirnya menghadapi kebuntuan dan konflik yang tak berkesudahan, Norwegia tetap mempertahankan posisinya sebagai salah satu negara Eropa paling vokal yang mendukung solusi dua negara (two-state solution). Oslo secara rutin menjadi salah satu donor bantuan pembangunan terbesar bagi Palestina dan kerap mengkritik keras kebijakan pendudukan di wilayah persengketaan.