Faktor tersebut meliputi infeksi seperti HPV, hepatitis B dan C, serta Helicobacter pylori, selain konsumsi alkohol, penggunaan tembakau, obesitas, dan kurangnya aktivitas fisik.

Direktur IARC Elisabete Weiderpass mengatakan profil kanker dunia kini mulai bergeser. Meski beberapa negara berhasil menurunkan angka kanker melalui kebijakan pencegahan, kemajuannya masih terlalu lambat.

WHO menilai berbagai kemajuan memang telah dicapai.

Penggunaan tembakau secara global turun 27% sejak 2010, sementara 82% negara kini telah memiliki rencana nasional pengendalian kanker, meningkat dibandingkan 50% pada 2010.

Di negara berpendapatan tinggi, program deteksi dini berhasil menemukan sebagian besar kasus kanker payudara lebih cepat, sedangkan 74% perempuan telah menjalani skrining kanker serviks.

Namun WHO menilai kemajuan tersebut belum cukup untuk menekan lonjakan kasus kanker di masa depan.

WHO mendesak pemerintah, organisasi internasional, akademisi, sektor swasta, hingga masyarakat sipil bekerja sama membangun sistem pengendalian kanker yang lebih berpusat pada pasien.

Laporan tersebut merekomendasikan tiga langkah utama: memperkuat kapasitas layanan kanker melalui UHC, meningkatkan perlindungan sosial bagi pasien dan keluarga, serta memastikan hasil riset dan inovasi dapat diakses secara adil.

WHO menegaskan keputusan yang diambil saat ini akan menentukan besarnya beban kanker yang harus ditanggung generasi mendatang.

>>> Suzuki New XL7 Alpha Hybrid Tampil Lebih Sporty dengan Eksterior Baru

Dengan investasi yang berkelanjutan dan pemerataan akses layanan, angka kematian akibat kanker dinilai masih dapat ditekan.