WHO juga menemukan obat-obatan kanker esensial masih sulit diakses di banyak negara berkembang.

Ketersediaan 20 obat kanker prioritas hanya berkisar 9-54% di negara berpendapatan rendah dan menengah bawah, jauh di bawah negara berpendapatan tinggi yang mencapai 68-94%.

Untuk pertama kalinya, WHO melakukan survei terhadap penyintas dan keluarga pasien kanker.

Hasilnya menunjukkan sedikitnya 45% pasien mengalami kesulitan finansial, lebih dari separuh menghadapi gangguan kesehatan mental, sementara hampir seluruh anggota keluarga yang merawat pasien mengaku mengalami tekanan.

WHO menegaskan kanker bukan hanya persoalan medis, tetapi juga berdampak besar terhadap kondisi ekonomi dan sosial sebuah keluarga.

>>> 5 Koleksi Jam Tangan Dokter Tirta, Ada yang Dibeli Second

Asia Jadi Wilayah dengan Beban Kanker Terbesar

Laporan tersebut mencatat Asia menjadi wilayah dengan beban kanker terbesar di dunia pada 2024.

Lebih dari 50,7% kasus kanker global dan 56,5% kematian akibat kanker terjadi di kawasan ini, sejalan dengan besarnya jumlah penduduk.

Sementara itu, Eropa menyumbang 21% kasus kanker dunia dan 20% kematian, meski hanya dihuni sekitar 9% populasi dunia.

Di sisi lain, sejumlah negara di Afrika dan sebagian Asia mencatat angka kejadian kanker yang lebih rendah, tetapi memiliki tingkat kematian yang jauh lebih tinggi akibat keterbatasan layanan kesehatan.

Kanker paru tetap menjadi penyebab kematian akibat kanker tertinggi di dunia. Pada laki-laki, kanker yang paling banyak ditemukan adalah kanker paru, prostat, dan kolorektal.

Sedangkan pada perempuan, beban terbesar berasal dari kanker payudara, paru, dan kolorektal.

Laporan itu juga mengungkap hampir empat dari 10 kasus kanker berkaitan dengan faktor risiko yang sebenarnya dapat dicegah.