Ia menjelaskan bahwa secara global, gempa dengan magnitudo 7,0 ke atas terjadi sekitar 15 kali per tahun, dan magnitudo 6,0 ke atas sekitar 130-140 kali per tahun.

Daryono mengatakan, persepsi bahwa Cincin Api lebih aktif biasanya dipicu oleh efek klasterisasi waktu, yaitu beberapa gempa signifikan terjadi berdekatan, serta kecepatan penyebaran informasi di media sosial.

Aktivitas gempa tahun ini masih dalam batas fluktuasi statistik normal.

Ia menambahkan, fluktuasi jumlah gempa dalam skala bulanan atau tahunan adalah siklus alamiah bumi yang normal, bukan indikasi bumi menjadi lebih tidak stabil.

Dampak bagi Indonesia

Indonesia yang berada di Cincin Api Pasifik rentan gempa besar. Namun, Daryono menegaskan rentetan gempa ini tidak akan memberi dampak signifikan bagi Indonesia.

Ia menjelaskan, gempa di Venezuela, Jepang, atau California tidak akan memicu gempa di Indonesia karena jarak jauh dan sistem lempeng yang mandiri.

Yang perlu diwaspadai adalah aktivitas pelepasan energi zona gempa regional dan lokal di Indonesia sendiri.

Langkah Mitigasi

Menurut Daryono, mitigasi terbaik bagi Indonesia adalah penguatan mitigasi struktural dan kultural. Secara struktural, prioritas utama adalah penerapan standar bangunan tahan gempa dan pemeliharaan sistem peringatan dini tsunami.

Secara kultural, perlu edukasi cara selamat dan simulasi evakuasi mandiri secara berkala bagi masyarakat di zona rawan.

>>> Jadwal Bioskop Trans TV 16 - 19 Juli 2026

Hal ini penting untuk kesiapan mental dan panduan bertindak saat gempa terjadi.