Ia membeberkan BBM untuk nelayan yang masih dibutuhkan sekitar 400 ribu kiloliter.

"Kita lagi menghitung berapa kebutuhan untuk nelayan dan juga bagaimana ketersediaan BBM sampai akhir tahun. Jadi, yang untuk nelayan kita butuh sekitar 400 ribu kiloliter lagi," jelas Yuliot.

Senada, Yuliot menegaskan pemerintah belum memutuskan besaran harga khusus BBM untuk kapal industri penangkap ikan.

"Ini kan ada dua.

>>> Cara Ajukan KUR BCA 2026: Pinjaman 100 Juta Cicilan 1,9 Juta

Yang pertama, ada yang subsidi di bawah 30 GT dan juga ada yang non-subsidi di atas 30 GT.

Jadi, ini masih dibahas sama Pak Menko (Airlangga Hartarto). Lagi diformulasikan," tambahnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan rencana penerapan harga khusus BBM untuk kapal industri penangkap ikan akan dilaporkan terlebih dahulu ke Presiden Prabowo Subianto.

"Nanti saya laporin pak presiden dulu. (Soal) harga khusus (BBM).

Nelayan sudah dapat harga subsidi Rp6.800 per liter, tapi itu kapalnya di bawah 30 GT.

Ini (penerapan harga khusus BBM untuk) 30 GT sampai 200 GT," tutur Airlangga.

Airlangga pun menekankan harga BBM terus bergejolak dan pemerintah terus memantau pergerakan harga minyak dunia.

"Selalu karena harga terlalu bergejolak. Ya kan kita monitor (harga minyak dunia) aja kan setiap minggu up and down," ujarnya.

Sebelumnya, KKP menerima asosiasi, himpunan nelayan, serta pelaku usaha perikanan dan kementerian/lembaga terkait soal skema BBM khusus bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan.

Saat ini, nelayan masih menghadapi tantangan berupa harga BBM non-subsidi yang mengalami lonjakan hingga menembus di atas Rp25 ribu per liter, keterbatasan akses BBM, hingga distribusi BBM subsidi yang belum merata.