Riot Games akhirnya mengumumkan League of Legends Classic, sebuah mode yang membawa pemain kembali ke era awal MOBA legendaris ini.

Pengumuman ini disambut optimisme oleh komunitas yang merindukan masa-masa sederhana. Namun, seorang veteran yang telah bermain sejak 2011 justru memperingatkan bahwa nostalgia bisa menipu.

>>> Pemerintah Kota Icheon Luncurkan Kontes Webtoon Buatan AI

Veteran tersebut, yang kini berusia awal 30-an, telah menyaksikan berbagai perubahan besar dalam 15 tahun terakhir. Ia mengingat banyak elemen buruk yang sering dilupakan pemain.

AP Master Yi, Garen dengan enam Sunfire Cape, AP Sion dengan stun satu klik, dan sistem Rune lama hanyalah beberapa contoh ketidakseimbangan masa lalu.

Selain itu, ada juga Taric dengan stun satu klik, Urgot lama, Skarner lama, Ryze lama, dan banyak lagi desain yang tidak lebih baik dari versi sekarang.

League of Legends era awal digambarkan sebagai 'Wild West' yang perlahan dibenahi. Meskipun memiliki daya tarik tersendiri, banyak aspek yang justru merusak pengalaman bermain.

Apa yang Hilang dan Apa yang Didapat

Era lama memang menawarkan lebih banyak ruang untuk strategi unik berkat sistem item dan rune yang kurang teroptimasi.

Namun, hal itu juga berarti ketidakseimbangan yang parah.

Jumlah champion yang lebih kecil memungkinkan setiap karakter baru mendominasi, berbeda dengan sekarang yang harus bersaing dengan 173 champion lainnya.

>>> OpenAI Rilis GPT-5.6 Sol, Model AI Terkuat dengan Fitur Multi-Agent

Di sisi lain, League modern memiliki banyak keunggulan. Champion terlihat dan dimainkan lebih baik, dengan lebih banyak peluang untuk counterplay.

Summoner's Rift versi modern jauh lebih indah secara visual. Mode Arena dan ARAM menjadi tambahan yang sangat baik, menggantikan kreativitas yang hilang dari mode inti.