Gelaran Acara Kamisan pada Kamis, 9 Juli 2026, kembali menyita perhatian publik. Di tengah lautan massa yang menuntut keadilan, satu sosok mencuri fokus dan namanya mendadak membanjiri lini masa media sosial. Ia adalah Dania Joedodarmo, seorang transpuan yang berani naik ke podium dan menyampaikan orasi membakar semangat.
 
Keberanian Dania bukanlah sebuah kebetulan, melainkan manifestasi dari kegelisahan mendalam terhadap kebijakan negara terbaru yang dianggap mencekam kelompok minoritas. Orasinya meledak tak lama setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi mengkategorikan penyebaran budaya LGBTQ sebagai bentuk ancaman nonmiliter terhadap negara.
 
Orasi di Tengah Bayang-Bayang Perpres 111 Tahun 2025
 
Momen emosional saat Dania berorasi terekam jelas dan viral di berbagai platform. Dengan suara lantang namun sarat akan perasaan, ia menyuarakan penolakannya terhadap Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 111 Tahun 2025 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara Tahun 2025–2029. Dalam beleid tersebut, pemerintah secara eksplisit menempatkan identitas dan ekspresi LGBTQ sebagai ancaman kedaulatan nonmiliter.
 
Bagi Dania dan banyak aktivis hak asasi manusia, kebijakan ini bukan sekadar dokumen negara. Ini adalah lampu kuning bagi kebebasan berekspresi dan eksistensi kelompok marginal di Indonesia. Berdiri sebagai seorang transpuan di ruang publik yang kerap kali tidak ramah, orasi Dania menjadi simbol perlawanan terhadap stigma dan kriminalisasi identitas. Publik yang menonton rekaman orasinya di media sosial banyak yang tersentuh. Kolom komentar dipenuhi dengan dukungan moral, mengapresiasi keberanian Dania yang menolak untuk diam di tengah kebijakan yang dianggap diskriminatif.
 
Mengenal Dania Joedodarmo: Seniman dari Yogyakarta
 
Di balik sosoknya yang viral sebagai orator Kamisan, Dania Joedodarmo sejatinya adalah seorang seniman yang telah lama berkarya di kancah musik indie tanah air. Ia bukanlah wajah baru dalam dunia seni yang kerap kali bersinggungan dengan kritik sosial.

Update Terbaru