Tentang "The King's Warden", Jamier menulis, "Ini adalah jenis film yang benar-benar ditonton orang Korea di bioskop, drama periode yang berjalan pada sentimen dan kelembutan populis untuk orang biasa."

Duka Universal, Sejarah Lokal

Di luar film arus utama, sorotan tahun ini juga menyoroti dua film yang berkaitan dengan trauma sejarah Peristiwa 3 April Jeju — "Hallan" karya Ha Myung-mi dan "My Name" karya Chung Ji-young.

Untuk melengkapi pemutaran perdana di Amerika Utara ini, festival menggelar pameran khusus bertajuk "Jeju 4.3: A Journey from Tragedy to Truth and Reconciliation" di Frieda and Roy Furman Gallery dari 12 hingga 16 Juli, dengan kedua sutradara hadir dalam sesi tanya jawab.

Jamier yakin penonton internasional akan merespons tema yang sangat lokal dan politis ini.

"Kami tidak menyajikan 'Hallan' dan 'My Name' secara didaktis, sebagai pekerjaan rumah, atau untuk mengajarkan pelajaran moral atau sejarah," jelasnya.

"'Hallan' pertama-tama adalah drama periode yang sangat mengharukan yang tetap intim di tengah tragedi sejarah dan politik. Ini tentang seorang ibu yang mencari anaknya di tengah pembantaian.

>>> Trailer Baru Chitose Is in the Ramune Bottle Second Cour Dirilis

Mengingat apa yang terjadi di dunia, tidak butuh imajinasi besar untuk melampaui kekhususan sejarah dan memahami apa yang dipertaruhkan dalam film ini," tambahnya.

Ketakutan Seoul vs Realitas New York

Menurut Jamier, orang di luar negeri tidak benar-benar melihat "kekeringan kreatif" yang dikhawatirkan kritikus Seoul karena konten Korea telah menjadi bagian permanen dari budaya pop Amerika.

Ia mencontohkan bahwa "Colony" menjual habis tiket malam pembukaan di New York dalam waktu kurang dari lima menit, dan "Hope" juga ludes dalam sehari.