Ironi Profesi: Senjata Makan Tuan dan Tudingan Insecurity

Setelah identitas dan jadwal praktiknya di Klinik ERHA Ultimate Bintaro Xchange (BXC) berhasil dikuliti oleh para netizen detective, dr. Ayu panik. Ia buru-buru menghapus jejak digital dan akun media sosialnya. Namun, langkah ini justru dianggap sebagai pengakuan bersalah dan memicu reaksi yang jauh lebih sengit.
 
Publik menyoroti sebuah ironi yang begitu kental. Sebagai dokter estetika yang setiap hari berurusan dengan treatment anti-penuaan, face contouring, hingga suntik botoks, profesi dr. Ayu sejatinya adalah "menjual" standar kecantikan fisik.
 
“Tapi yang kocak tuh kan dia dokter kecantikan yakkk… botox dll kan dia nanganin. Kocak sama aja kaya ngeledek kerjaannya yang membuat orang jadi unoriginal,” tulis salah satu warganet, menyoroti betapa kontradiktifnya tindakan sang dokter.
 
Banyak psikolog amatir dan warganet yang menyimpulkan bahwa tindakan body shaming yang dilakukan dr. Ayu murni berasal dari rasa insecure atau ketidakamanan dirinya sendiri. Alih-alih Amanda Zahra yang melakukan doxxing, sang dokter sendirilah yang ceroboh karena membiarkan rasa irinya tumpah ruah di kolom komentar.
 
Tak hanya itu, warganet bahkan membandingkan foto asli sang dokter dengan foto profilnya yang terpampang di situs resmi klinik. Sindiran pedas pun bermunculan, mempertanyakan siapa yang sebenarnya memiliki wajah "tidak asli" ketika foto profil di situs resmi dinilai sangat berbeda dengan wajah aslinya.
 

Permintaan Maaf yang Dianggap Terlambat dan Tertekan

Sadar posisinya telah tersudut dan kariernya terancam hancur, dr. Ayu Kusuma Ningrum akhirnya merilis pernyataan permintaan maaf terbuka melalui akun Threads pribadinya, @ayukusumaningrum_.
 
Dalam pernyataannya, ia memohon maaf kepada Amanda Zahra beserta keluarga, keluarganya sendiri, manajemen ERHA, serta seluruh perempuan yang merasa tersakiti. Ia berjanji untuk tidak akan mengulangi perbuatannya dan berjanji untuk tidak lagi melakukan bullying atau memberikan komentar negatif di media sosial.
 
Namun, permintaan maaf ini sama sekali tidak berhasil meredam amarah publik. Mayoritas warganet menilai penyesalan dr. Ayu bukanlah lahir dari kesadaran moral yang mendalam, melainkan murni karena takut kehilangan mata pencahariannya.
 
“Kamu menyesal gara-gara ketahuan dan berdampak ke kehidupan pribadimu,” tegas salah satu akun yang menohok bahwa permintaan maaf tersebut terasa palsu dan terpaksa.