Enam puluh penggemar Witch Hat Atelier dan The Owl House berkumpul di Kodansha House, Los Angeles, untuk sesi Q&A spesial bersama kreator Kamome Shirahama dan Dana Terrace.

Setelah bertahun-tahun saling mengagumi, kedua penulis fantasi ini akhirnya berdiskusi secara publik tentang karya masing-masing.

Shirahama mengenakan cosplay Iguin seperti biasanya, sementara Terrace memakai topi lancip hitam.

Mereka berbagi wawasan tentang proses kreatif, cara membangun dunia fantasi, serta trivia menarik satu sama lain.

Proses Kreatif dan Inspirasi

Shirahama mengungkapkan bahwa Witch Hat Atelier membutuhkan waktu enam tahun pengembangan, termasuk satu tahun untuk menggambar bab pertama.

Gaya inking khasnya dipengaruhi seniman Barat seperti Arthur Rackham dan Alphonse Mucha, serta mangaka Katsuhiro Ōtomo dan Moto Hagio.

Ia juga banyak menonton film Studio Ghibli, dan favoritnya sama dengan Terrace: Princess Mononoke.

Shirahama mengaku penasaran menjadi kreator anime setelah melihat adaptasi anime Witch Hat Atelier.

Terrace menimpali bahwa ia ingin sekali melihat adaptasi anime manga Shirahama, namun Shirahama bercanda bahwa timnya akan sangat menderita karena ia perfeksionis.

Karakter dan Filosofi Cerita

Terrace terpesona dengan pernyataan Shirahama bahwa Witch Hat Atelier bercerita tentang kemungkinan, di mana seseorang tidak perlu terlahir istimewa untuk menciptakan sesuatu yang luar biasa.

Shirahama menjelaskan bahwa pesan itu memberinya banyak harapan, seperti proses manusia belajar berjalan yang penuh kemungkinan.

Ia juga merinci karakter kuartet utama: Coco yang penasaran dan optimis, Agott yang sederhana dan terburu-buru percaya diri, Riche dengan elemen artis sulit, dan Tetia yang positif seperti produser.

Saat ditanya soal jalan buntu kreatif, Shirahama mengaku tetap memeras otak karena tenggat tak menunggu, lalu meminta perpanjangan waktu pada editornya.