• 2023-2024: Kepala Tim Divisi Penjualan di PT Toyota Tsusho System Indonesia (perusahaan yang bergerak di bidang sistem dan distribusi otomotif/IT).
  • 2024-2025: Direktur dan Perencanaan Strategis di PT Lumintoo Sukses Incomso.
  • 2025-Sekarang: Tenaga Ahli Menteri Kementerian Pekerjaan Umum.
 
Transisi drastis dari dunia pemasaran sistem otomotif dan perencanaan strategis perusahaan swasta, langsung melompat ke kursi komisaris BUMN konstruksi dan tenaga ahli kementerian, tentu memicu tanda tanya besar di mata para pengamat birokrasi.
 

Badai Kritik Warganet: Kematian Meritokrasi?

Kasus ini seketika memancing reaksi keras dari berbagai kalangan. Kolom komentar di media sosial dibanjiri oleh kritik pedas yang menyoroti matinya sistem meritokrasi di Indonesia, di mana kompetensi seolah kalah oleh koneksi darah.
 
Banyak warganet yang menyayangkan fenomena ini. "Saking banyaknya yang harus kita viralkan, sampai puyeng," cuit akun @candrapic, menyindir banyaknya kasus serupa yang tak kunjung usai di negeri ini.
 
Lebih jauh, akun @sen894631 memberikan kesaksian yang cukup mengkhawatirkan mengenai dampak dari penunjukan tenaga ahli yang tidak kompeten. "Info dari ordal, Aisyah adalah salah satu TA yang merupakan deep state nentukan si menteri. Masih banyak TA lainnya yang kerjaannya ga jelas dan mendapat fasilitas Eselon II. Gara-gara mereka, banyak pejabat dan pegawai karir yang dicopot dan dibuang ke daerah terpencil," jelasnya.
 
Senada dengan itu, akun @dhaningb menyindir dengan nada sarkasme terkait latar belakang Aisyah. "Dari marketing mobil jadi komisaris PP sunggar. Jadi eman-eman (sayang). Gak kerja marketing tuh prospeknya ya, Gais," tandasnya, menyindir betapa mudahnya jabatan negara dibagikan kepada kerabat tanpa melihat portofolio yang relevan.