Cinta Semu dan Teror Nyai Sasigeni

Pada awalnya, ritual pelet tersebut seolah berjalan sesuai rencana. Wulan yang sebelumnya menjauh, mendadak berbalik arah. Ia meninggalkan Damar dan mulai mengejar Jay dengan cara yang sangat agresif, posesif, dan tidak wajar. Jay pun merasa berada di puncak kemenangan.
 
Namun, euforia semu itu tidak bertahan lama. Kebahagiaan Jay dengan cepat berubah menjadi mimpi buruk yang mencekik leher.
 
Perubahan drastis pada psikologis dan fisik Wulan ternyata bukanlah efek samping dari ilmu pelet biasa. Perubahan tersebut adalah sebuah "pintu masuk" yang mengundang entitas gaib kuno nan lapar darah bernama Nyai Sasigeni untuk merasuki tubuh Wulan.
 
Wulan perlahan kehilangan kendali penuh atas tubuh dan kesadarannya. Sosok gaib itu mengambil alih raganya, memicu dorongan obsesif yang semakin brutal. Wulan yang kini dikendalikan oleh Nyai Sasigeni menjadi ancaman mematikan bagi siapa pun yang mencoba menghalangi "cintanya" dengan Jay.
 

Tumbal Darah dan Penyesalan yang Terlambat

Di tengah kekacauan yang berdarah-darah, Damar—sang mantan tunangan yang cintanya tulus—turut bergerak maju. Ia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan Wulan dari cengkeraman iblis yang merasuki tubuh wanita yang dicintainya.
 
Sementara itu, Jay yang awalnya merasa menang, kini harus menelan pil pahit. Ia baru menyadari kengerian yang sebenarnya ketika darah mulai tumpah. Ajian Pemikat Jiwa yang ia gunakan bukanlah sekadar alat pemikat asmara, melainkan sebuah kontrak pengikat jiwa yang menuntut tebusan nyawa.
 
Setiap upaya untuk melepaskan kutukan tersebut tidak bisa dilakukan dengan mudah. Ritual pembatalan justru meminta harga dan tumbal yang jauh lebih mengerikan, mengorbankan orang-orang tak berdosa di sekitar mereka.