Liburan sekolah telah tiba, dan bagi jutaan warga Inggris, ini adalah awal dari ajang tahunan terbesar: Olimpiade buffet all-you-can-eat.

Wimbledon dan Piala Dunia mungkin penting, tetapi buffet all-inclusive tetap menjadi olahraga kompetitif terkuat negara ini.

>>> KPK Kembali Panggil Eks Sekjen MPR Ma'ruf Cahyono Hari Ini

Tahun lalu, saat tiba di Bandara Luton sebelum fajar, anak-anak saya melihat orang-orang minum alkohol sejak pagi. Mereka bertanya dengan polos, "Apakah mereka minum...

alkohol?" Ya, sayangku, dan mereka akan terus melakukannya dari lampu pertama di terminal hingga bus terakhir meninggalkan resor.

Sejak pandemi, tren liburan di Inggris semakin condong ke all-inclusive. Antara 2023 dan 2024, pemesanan resor all-inclusive Eropa naik 30%.

Data Abta menunjukkan seperempat wisatawan Inggris kini memilih paket all-inclusive, yang berarti makanan dan minuman tak terbatas—meskipun sudah dibayar di muka, rasanya tetap "gratis".

Alasan kenaikan ini antara lain keinginan untuk mengunci biaya di tengah ekonomi yang goyah dan menikmati liburan "tanpa keputusan" di era yang melelahkan.

Namun, ada daya tarik lain yang lebih besar: kesenangan menaklukkan Tantangan Buffet.

Sejarah Buffet dan Strategi Jitu

Keberhasilan menghadapi tantangan ini bergantung pada pemahaman Sejarah Buffet dan kemampuan memperkirakan harga setiap hidangan.

Saya beruntung tumbuh di zaman batu buffet, yaitu salad bar Pizza Hut era 1980-an.

Seperti pesenam blok timur, kami yang tumbuh di era Pizza Hut mengasah keterampilan di lingkungan di mana pengunjung hanya diizinkan satu kali kunjungan ke buffet.

Caranya: daun ringan dan keju parut di dasar, lalu lapisan lebih berat dan padat (crouton, potongan ham), hingga penggunaan stik roti untuk menyangga tutup karton, memberi ruang ekstra setengah inci untuk salad.