"Kunjungan Raja adalah momen kebanggaan bagi Isle of Man," kata Alfred Cannan MHK.

Ia mencatat bahwa perayaan publik ini menjadi momen kolektif bagi komunitas. "Sebagai Lord of Mann, Yang Mulia memegang tempat unik dalam kehidupan konstitusional pulau kami," ujarnya.

Menteri menyimpulkan bahwa masyarakat menantikan kesempatan untuk melihat raja secara langsung.

"Saya tahu banyak warga akan menyambut kesempatan untuk melihat Raja dan berkumpul bersama dalam menandai momen penting dalam sejarah pulau kami," kata Alfred Cannan MHK.

Kritik terhadap Pergeseran Gelar Keagamaan

Sementara itu, pendekatan Raja yang lebih luas terhadap gelar kerajaan dan tugas keagamaan menuai kritik dari mantan pejabat istana, seperti dilaporkan Yahoo.

Dr. Gavin Ashenden, mantan pendeta kerajaan, mengkritik keras pergeseran ideologi modern raja dalam wawancara dengan The Karl Stefanovic Show pada Selasa.

"Jelas, kita memiliki Raja yang 'woke'," kata Dr. Gavin Ashenden.

Kritik tersebut menargetkan keputusan Raja untuk meninggalkan gelar tradisional abad keenam belas 'Defender of the Faith' dan memilih mendefinisikan perannya sebagai Gubernur Tertinggi Gereja Inggris yang melindungi ruang bagi semua agama dalam negara multi-agama.

"Kebetulan, kita memiliki Raja yang tidak bisa berpikir jernih meskipun telah mendapatkan pendidikan terbaik," ujar Ashenden.

Mantan pendeta itu berargumen bahwa Raja telah terperangkap dalam konsep yang belum terbukti yang memperlakukan semua filosofi spiritual memiliki nilai sosial yang identik.

>>> 19 Pemain Terancam Absen di Semifinal Piala Dunia 2026 Jika Kena Kartu Kuning Lagi

"Dia terjebak dalam sesuatu yang menyenangkannya, yaitu gagasan bahwa semua agama dan semua realitas spiritual memiliki nilai yang sama," kata Ashenden.

Komentator itu menegaskan bahwa catatan sejarah tidak mendukung gagasan bahwa mencampur sistem kepercayaan yang berbeda bermanfaat bagi peradaban manusia.