Sebagai regulator, BPOM memastikan setiap vaksin harus memenuhi tiga syarat utama: aman, efektif, dan diproduksi dengan standar mutu yang baik.

Namun BPOM juga tidak ingin regulasi menjadi penghambat inovasi.

"Jangan tunggu Badan POM sebagai tukang stempel, libatkan dari awal," kata Taruna.

Pemimpin peneliti dari Etana Biotechnologies Indonesia, Beti Ernawati Dewi, menyebut vaksin DBD masih berada pada tahap uji praklinis.

Meski begitu, hasil awal menunjukkan respons imun yang menjanjikan.

"Kita memang baru tahap pre-clinical trial, tetapi dari hasil uji praklinis yang kita lakukan ternyata titer antibodi untuk menetralisasi strain DBD di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan vaksin komersial lain yang sudah ada di Indonesia," ujarnya.

Beti berharap dalam enam bulan ke depan, penelitian dapat berlanjut ke pengujian efikasi pada subjek di Indonesia.

>>> Wamenaker Dorong Gen Z Wirausaha: Jangan Hanya Bergantung Lowongan

Jika seluruh tahapan berjalan lancar, vaksin ini berpotensi menjadi vaksin mRNA pertama di dunia untuk mencegah DBD.