Para pelayat membawa bendera merah darah, simbol balas dendam dalam tradisi Syiah, serta spanduk bertuliskan "Bunuh Trump" dan poster bergambar Mojtaba Khamenei.

"Saya datang dengan penuh kehormatan dan kebanggaan untuk menunjukkan kepada seluruh dunia betapa kami mencintainya dan betapa teguhnya komitmen kami terhadap sistem, rakyat, dan Republik Islam," ujar Melika Nourian, mahasiswi berusia 22 tahun.

Pesan kepada Musuh

Selain Khamenei, sebuah truk lain dihiasi foto para pejabat tinggi Iran dan tokoh pro-Teheran yang tewas dalam beberapa tahun terakhir.

Termasuk mantan komandan Pasukan Quds, Qassem Soleimani, yang tewas dalam serangan udara AS di Irak pada 2020.

Di tengah suhu udara mendekati 40 derajat Celsius, truk-truk menyemprotkan air kepada para pelayat. Rute prosesi membentang sekitar 20 kilometer.

"Kepemimpinan sang syahid mengajarkan bahwa aset terbesar Iran adalah rakyatnya dan persatuan mereka," tulis Presiden Iran Masoud Pezeshkian di platform X.

Pezeshkian termasuk di antara pelayat yang mengikuti prosesi.

Media pemerintah menayangkan kehadiran Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, Kepala Kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan Komandan Pasukan Quds saat ini, Esmail Qaani.

Ketua Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, juga tampil untuk pertama kalinya sejak ditunjuk.

"Kehadiran jutaan orang dengan bendera merah dan slogan yang menyerukan pembalasan darah merupakan pesan jelas dari bangsa Iran kepada musuh-musuhnya," demikian pernyataan Zolghadr yang disiarkan media Iran.

>>> Babak I Piala Dunia 2026: Belgia Ungguli AS 2-1

Mantan Presiden Mahmoud Ahmadinejad juga hadir, setelah sempat berselisih dengan Khamenei dan tidak terlihat sejak perang dimulai.