"Ada satu konstanta selama pemilu: orang mencari 'agen perubahan', seseorang yang bisa membawa perubahan," kata Soenens, seraya menambahkan bahwa kandidat yang gagal akan segera ditinggalkan.

Momentum politik ini menuai kritik tajam dari Partai Republik. Pejabat partai semakin sering melabeli gerakan ini sebagai ancaman komunis.

Perwakilan Tim Burchett dari Tennessee menyebut DSA sebagai komunis di media sosial. Mantan Presiden Donald Trump juga mengecam pergeseran progresif sebagai bahaya ideologis dalam pidato di Mount Rushmore.

Trump mengatakan warga harus memilih antara patriotisme nasional yang ketat atau ideologi Marxis. "Kamu bisa setia pada Karl Marx atau pada Amerika," ujarnya.

Pidato tersebut mempertajam pertarungan retoris tentang masa depan ekonomi negara. Trump menyebut komunisme sebagai kanker.

>>> Penari Eras Tour Taylor Swift Dikritik karena Pakai Gaun Putih ke Pernikahan

Menanggapi label tersebut, kalangan sosialis demokrat menegaskan bahwa mereka tidak menganjurkan sistem ala Soviet yang otoriter atau model Skandinavia yang digerakkan pasar, melainkan sistem di mana kekuasaan pengambilan keputusan berada langsung di tangan publik.