Rupiah Melemah ke Rp17.996 per Dolar AS, Sejalan dengan Tekanan Mata Uang Asia
Nilai tukar rupiah memulai perdagangan awal pekan dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pergerakan tersebut berlangsung seiring tekanan yang juga dialami mayoritas mata uang utama di kawasan Asia.
Pada perdagangan spot Senin (6/7/2026), kurs rupiah dibuka di level Rp17.996 per dolar AS atau turun 0,23 persen dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya.
Tekanan tidak hanya dialami rupiah. Hampir seluruh mata uang Asia bergerak di zona negatif terhadap dolar AS. Dolar Taiwan mencatat pelemahan paling besar, disusul yen Jepang, won Korea Selatan, dan rupiah. Sementara itu, rupee India menjadi mata uang dengan kinerja paling baik karena mampu bertahan stabil.
>>> Harga Emas Antam di Pegadaian Stabil pada 6 Juli 2026, Berikut Daftar Harga Terbaru
Rupiah Juga Tertekan di Pasar NDF
Tekanan terhadap mata uang domestik turut terlihat di pasar Non-Deliverable Forwards (NDF). Hingga sekitar pukul 09.06 WIB, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp18.039 per dolar AS.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menunggu publikasi data cadangan devisa yang dijadwalkan keluar pada Selasa. Posisi cadangan devisa terus mengalami penurunan sejak Desember tahun lalu hingga berada di level US$145 miliar pada akhir Mei, yang merupakan posisi terendah sejak Juni 2024.
Cadangan devisa menjadi salah satu indikator kemampuan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui intervensi di pasar keuangan. Ketika cadangan devisa menyusut, ruang bank sentral untuk meredam gejolak nilai tukar ikut menjadi perhatian pelaku pasar.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi perubahan kinerja perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan pada Mei mencatat defisit, sekaligus mengakhiri rangkaian surplus yang telah berlangsung selama 72 bulan berturut-turut.
Dolar AS Masih Mendapat Dukungan
Faktor eksternal juga masih membayangi pergerakan rupiah. Hingga pukul 09.16 WIB, Dollar Index yang mengukur kekuatan dolar AS terhadap enam mata uang utama dunia naik 0,11 persen menjadi 100,968.
Pasar masih memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi lebih lama. Proyeksi terbaru Federal Reserve juga menunjukkan peluang kenaikan suku bunga acuan setidaknya satu kali lagi sepanjang tahun ini.
Dalam catatan tertulis, Goldman Sachs menilai kombinasi suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama di AS, rendahnya risiko resesi, kekhawatiran terhadap kebijakan fiskal Negeri Paman Sam, serta kenaikan suku bunga di Jepang berpotensi terus memberikan tekanan terhadap mata uang di kawasan Asia.
Update Terbaru
200 Rekomendasi Nama PUBG Mobile Lucu yang Bikin Ngakak
Senin / 06-07-2026, 10:58 WIB
Rupiah Melemah ke Rp17.993 per Dolar AS Pagi Ini
Senin / 06-07-2026, 10:58 WIB
Iran Bacakan Ayat Alquran Khusus untuk Delegasi Asing di Pemakaman Khamenei
Senin / 06-07-2026, 10:58 WIB
PTUN Kabulkan Gugatan Pegawai Kemen HAM, Menteri Pigai Dinyatakan Kalah
Senin / 06-07-2026, 10:57 WIB
Jimenez Cetak Gol Penalti, Meksiko Perkecil Ketertinggalan dari Inggris
Senin / 06-07-2026, 10:56 WIB
Klub Italia Tolak John Stones karena Tuntutan Gaji Tinggi
Senin / 06-07-2026, 10:56 WIB
Gua Baru Sepanjang 3 Km Ditemukan di Vietnam, Penuh 'Mutiara' Langka
Senin / 06-07-2026, 10:56 WIB
Relawan Undang Jokowi Berkunjung ke Sumatera Selatan Bulan Depan
Senin / 06-07-2026, 10:56 WIB
Harga Emas Antam Mandek di Level Rp2,429 Juta Hari Ini
Senin / 06-07-2026, 10:56 WIB
YASOP dan Artha Graha Peduli Kolaborasi Bangun Karakter Generasi Muda
Senin / 06-07-2026, 10:56 WIB
Pitcher Boston Red Sox Ranger Suarez Cedera, Tinggalkan Lapangan
Senin / 06-07-2026, 10:53 WIB
'Bang Jago' Pemukul Pengendara Motor di Jaksel Ditangkap Polisi
Senin / 06-07-2026, 10:53 WIB
Penyebab Chat WhatsApp Kerap Tak Masuk Jika Aplikasi Tidak Dibuka
Senin / 06-07-2026, 10:53 WIB
Argentina ke 16 Besar Piala Dunia Usai Kalahkan Cape Verde Lewat Extra Time
Senin / 06-07-2026, 10:49 WIB







