Ancaman PHK dan Respons Kebijakan

Analis Senior ISEAI Ronny P Sasmita menekankan penurunan PMI bukan fluktuasi biasa. Jika PMI bertahan di bawah 50 selama beberapa bulan, sektor manufaktur kehilangan momentum.

"Ini cukup krusial, karena manufaktur adalah salah satu motor utama penciptaan lapangan kerja dan nilai tambah.

Jadi, ini adalah early warning bahwa mesin pertumbuhan berbasis industri sedang melemah," ungkapnya.

Namun, Ronny menilai penurunan PMI belum tentu langsung berisiko terhadap PHK. Perusahaan biasanya menahan rekrutmen terlebih dahulu, kemudian mengurangi jam kerja, baru jika tekanan berlanjut mereka melakukan PHK.

"Jika tren kontraktif ini berlanjut dan meluas ke sektor lain, risiko PHK bisa menjadi lebih sistemik, terutama di sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan elektronik," tambahnya.

Menurut Ronny, kombinasi pelemahan permintaan global, kenaikan biaya energi dan logistik, serta tekanan nilai tukar perlu diwaspadai.

"Jika ini terjadi bersamaan, perusahaan akan terdorong melakukan efisiensi yang lebih agresif, termasuk pengurangan tenaga kerja," katanya.

Meski penurunan PMI belum bisa diterjemahkan langsung sebagai badai PHK, Ronny menilai hal tersebut merupakan leading indicator bahwa risiko ke arah sana meningkat.

>>> Sutradara Adolescence Kaget Ditawari Sutradarai Enola Holmes 3

"Respons kebijakan menjadi krusial di fase ini, terutama untuk menjaga daya beli, mendorong permintaan, dan memastikan sektor industri tidak masuk ke kontraksi yang lebih dalam," pungkasnya.