Sebanyak 62% responden Indonesia menilai kemampuan berpikir kritis menjadi keterampilan paling penting di era AI. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 46%.

Sementara itu, 60% responden menempatkan kemampuan mengendalikan kualitas hasil AI sebagai prioritas utama, melampaui rata-rata global sebesar 50%.

Kesadaran tersebut juga tercermin dalam pola penggunaan AI sehari-hari.

>>> Susul Messi ke Amerika, Robert Lewandowski Resmi Gabung Chicago Fire, Kontrak Hingga 2028

Sebanyak 93% pengguna AI di Indonesia menganggap hasil yang diberikan AI hanya sebagai titik awal, bukan jawaban akhir.

Mereka tetap menempatkan manusia sebagai pihak yang bertanggung jawab atas proses berpikir dan hasil akhir pekerjaan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 86%.

Di sisi lain, percepatan adopsi AI juga memunculkan tantangan baru. Sebanyak 85% pengguna AI di Indonesia mengaku khawatir tertinggal apabila tidak segera beradaptasi dengan teknologi tersebut.

Angka ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata global sebesar 65%. Meski demikian, organisasi di Indonesia mulai membangun fondasi transformasi AI yang lebih kuat.

Sebanyak 42% responden menilai pimpinan perusahaan telah memiliki arah yang jelas terkait pemanfaatan AI. Sementara 41% menyatakan budaya bereksperimen tetap didorong meski belum langsung menghasilkan keberhasilan.

Persentase tersebut hampir tiga kali lipat dari rata-rata global yang hanya mencapai 13%.

Implementasi AI di Sektor Perbankan

Microsoft juga menyoroti implementasi AI di sektor perbankan melalui kerja sama dengan PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BSI).

Bank tersebut memanfaatkan Microsoft 365 Copilot dan Copilot Chat untuk mendukung penyusunan dokumen, analisis informasi, serta komunikasi internal.

Security Identity, Application, & Data Management Department Head BSI, Agus Setiawan, mengatakan AI telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan.