Timnas Brasil nyaris mencatatkan kegagalan terburuk di Piala Dunia 2026 saat menghadapi Jepang pada babak 32 besar.

Tertinggal satu gol di babak pertama, Brasil akhirnya bangkit dan menang 2-1.

>>> Kluivert Ayah-Anak Rasakan Kekalahan Adu Penalti di Piala Dunia

Pertandingan yang berlangsung di Houston Stadium itu sempat membuat Brasil terancam tersingkir lebih awal. Namun, sentuhan dingin pelatih Carlo Ancelotti menjadi faktor pembeda.

Brasil menurunkan susunan pemain tertua mereka di fase gugur sejak 2006, dengan rata-rata usia 29 tahun 245 hari.

Hal itu membuat permainan Selecao kehilangan dinamika di babak pertama.

Jepang memanfaatkan situasi tersebut melalui gol Kaishu Sano. Brasil pun tertinggal hingga turun minum.

Ketenangan Ancelotti Jadi Kunci

Di tengah tekanan, Carlo Ancelotti tetap tenang di pinggir lapangan. Sikapnya itu bukan sekadar meredam kepanikan, melainkan keyakinan bahwa Brasil bisa membalikkan keadaan.

Perubahan mulai terlihat setelah turun minum. Ancelotti memasukkan Endrick menggantikan Lucas Paqueta yang cedera, membuat permainan Brasil lebih agresif.

>>> JetBlue Airways Tabrak Drone saat Hendak Mendarat di Bandara JFK

Pelatih berusia 67 tahun itu juga tetap mempertahankan Casemiro meski telah menerima kartu kuning dan melakukan kesalahan.

Kepercayaan itu dibayar lunas ketika Casemiro mencetak gol penyama kedudukan melalui sundulan.

Berdasarkan data Opta, gol tersebut lahir dari perubahan pendekatan Brasil yang lebih mengandalkan umpan silang.

Brasil melepaskan 27 umpan silang di babak kedua, salah satu jumlah tertinggi mereka dalam satu pertandingan Piala Dunia sejak 1966.

Dominasi Brasil akhirnya berbuah gol penentu kemenangan.

>>> Pramono Bangun JPO Baru di Rasuna Said, Warga Bisa Pasang Gembok Cinta

Hasil ini menyelamatkan Brasil dari potensi kegagalan terburuk di fase gugur sejak 1990 dan mengantar mereka ke babak 16 besar.