Prosesi ini umumnya hanya dilakukan dalam upacara adat besar dan diperuntukkan bagi tokoh yang memperoleh penghormatan tinggi, seperti raja, pemimpin adat, kepala suku, atau sosok berjasa.

Dalam kondisi tertentu, masyarakat umum juga dapat menjalani ritual serupa jika dinilai memiliki pengabdian luar biasa.

in1

Selain simbol penyucian diri, ritual ini mengandung pesan moral bahwa setiap gelar atau kehormatan bukan sekadar kebanggaan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.

Tradisi menginjak kepala kerbau diyakini berakar dari budaya Minangkabau, Sumatera Barat.

Seiring hubungan antarkerajaan dan jalur perdagangan sejak sekitar abad ke-7 Masehi, tradisi ini menyebar ke Jambi dan berbagai daerah lain, termasuk Lampung, dengan penyesuaian nilai dan tata upacara setempat.

Meski tata cara pelaksanaannya berbeda di setiap daerah, filosofi yang diusung tetap sama: simbol penyucian diri, kesiapan memikul amanah baru, serta penghormatan tertinggi kepada seseorang yang berkontribusi besar bagi masyarakat.

>>> Ilmuwan Ungkap Penyebab Kematian Massal Lumba-lumba di Inggris

Usai menerima gelar adat, Jokowi menegaskan bahwa penghormatan tersebut memiliki makna lebih dari sekadar penyematan gelar.