>>> Blok Kayu Jerman Bangun Struktur Rumah dalam 7 Hari Tanpa Semen

Keberhasilan program B50 menjadi alasan pemerintah mulai menyiapkan strategi serupa untuk bensin melalui pemanfaatan bioetanol.

in1

Pemerintah saat ini tengah mendorong penggunaan campuran etanol pada bensin melalui skema E10 hingga E20 untuk menekan kebutuhan impor di masa depan.

"Kalau B50 bisa kita memenuhi kebutuhan solar kita, kenapa bensin enggak?" ujar Bahlil.

Ia menilai pengurangan impor BBM menjadi langkah penting di tengah situasi geopolitik global yang masih penuh ketidakpastian.

Selain memperkuat ketahanan energi nasional, kebijakan tersebut juga diyakini mampu mengurangi tekanan terhadap kebutuhan devisa negara.

Bahlil mengungkapkan Indonesia saat ini harus mengeluarkan devisa sekitar US$30 miliar atau sekitar Rp538 triliun setiap tahun untuk membeli BBM dari luar negeri.

Menurutnya, jika impor berhasil ditekan lebih jauh, kebutuhan dolar AS juga akan berkurang sehingga berpotensi membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

"Ketika permintaan kita kepada dolar tidak terlalu besar, maka saya yakin nilai tukar kita juga akan semakin membaik.

Devisa kita yang paling keluar, paling banyak itu adalah untuk membeli BBM," katanya.

Tak hanya itu, pemerintah juga mulai mengkaji kemungkinan transaksi pembelian energi menggunakan mata uang selain dolar AS sebagai bagian dari strategi diversifikasi perdagangan internasional.

>>> Bebe Rexha Pamerkan Curves di Bikini Sambil Paddle Board di Ibiza

"Kalau bisa belanja di negara lain tidak pakai dolar, mungkin itu salah satu alternatif juga supaya ada diversifikasi," tutur Bahlil.