Desain awal memorial Global War on Terrorism (GWOT) yang baru dirilis mendapat kritik tajam dari para veteran yang bertugas di Irak dan Afghanistan.

Mereka menilai rancangan tersebut tidak mencerminkan realitas medan perang yang mereka alami.

in1

>>> Siapa Istri Brigjen Yuniar Dwi Hantono? Nama Ny. Dhieta Yuniar Terseret Sorotan Jogja Marathon 2026

Memorial yang dirancang oleh arsitek Kengo Kuma ini berupa lengkungan berlapis rumput dengan rangka baja dan besi bekas dari zona konflik.

Pintu masuknya diapit puing-puing serangan 11 September 2001, dan seluruh struktur menghadap ke bagian Pemakaman Nasional Arlington tempat banyak korban perang dimakamkan.

Michael Rodriguez, Presiden Global War on Terrorism Memorial Foundation dan mantan prajurit Pasukan Khusus Angkatan Darat, mengatakan desain ini didasarkan pada pertanyaan tentang bagaimana memorial harus membuat orang merasa.

Namun, banyak veteran justru merasa desain itu terlalu tenang dan tidak terhubung dengan pengalaman perang.

Alex Plitsas, yang memimpin tim perang psikologis Angkatan Darat di Irak, mengatakan desain tersebut terasa terputus dari pengalaman.

Menurutnya, perang selama dua dekade itu bersifat global dengan banyak medan pertempuran, namun tidak ada elemen yang menghubungkan dengan semua itu.

Senator Partai Republik dari Indiana, Jim Banks, yang pernah bertugas di Afghanistan, juga mengkritik desain tersebut.

Ia menulis di X bahwa ribuan prajurit heroik telah berkorban dan mereka layak dihormati dengan martabat, bukan seni abstrak yang terputus.

>>> Mohamed Salah Bersinar, Mesir Raih Kemenangan Perdana di Piala Dunia 2026

Banyak veteran mempertanyakan mengapa memorial tidak menampilkan elemen yang lebih dekat dengan pertempuran, seperti barikade beton T-wall atau nama serta foto lebih dari 7.000 personel yang tewas.