Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka merosot pada perdagangan Senin pagi, 22 Juni 2026.

Berdasarkan data pasar spot, rupiah tertahan di posisi Rp17.779 per dolar AS. Angka tersebut mencerminkan penurunan sebesar 0,14 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

in1

>>> Kelly Osbourne Kenang Ozzy Osbourne di Hari Ayah dengan Pesan Menyentuh

Pelemahan ini terjadi meskipun Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga menjadi 5,75 persen pada pekan lalu.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) terpantau stabil di posisi 100,617.

Sementara itu, harga emas global (XAU/USD) melonjak signifikan sebesar 0,76 persen atau naik 31,66 poin menuju level USD4.191,92 per troy ons.

Meningkatnya harga emas dunia mengindikasikan tingginya ketertarikan pelaku pasar terhadap aset aman (safe haven).

Logam mulia tetap menjadi opsi utama saat pasar finansial dibayangi risiko perlambatan ekonomi dan eskalasi geopolitik global.

Tekanan terhadap rupiah juga tampak saat dihadapkan dengan sejumlah mata uang utama global. Euro menguat 0,17 persen atas rupiah sehingga berada pada kisaran Rp20.426.

Selain Euro, yuan Tiongkok dan dolar Singapura turut menguat masing-masing sekitar 0,07 persen terhadap rupiah. Namun, rupiah masih lebih tangguh dibandingkan beberapa mata uang Asia.

>>> IHSG 22 Juni 2026 Menguat ke Level 6.198 Bersama Bursa Regional

Rupiah berhasil menguat 0,33 persen terhadap won Korea Selatan.

Sementara itu, ringgit Malaysia melemah 0,13 persen, diikuti baht Thailand turun 0,08 persen dan yen Jepang melemah 0,04 persen terhadap rupiah.

Fluktuasi rupiah juga tidak terlepas dari situasi di pasar obligasi domestik. Imbal hasil atau yield surat utang pemerintah Indonesia tenor 10 tahun naik ke angka 7,12 persen.